Rabu, 01 Februari 2012

EMPAT KEDUDUKAN ANAK DALAM AL-QURAN

Oleh: Agus Hermawan, S.Ag

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah serta memiliki intelegensi yang tinggi. Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya, manakala anak tersebut berbakti kepada mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya. Namun anak juga dapat membuat susah kedua orang tuanya manakala anak tersebut tidak berbakti kepadanya, serta tidak taat beribadah, apalagi kalau sampai terlibat atau tersangkut dalam masalah kriminalitas atau kenakalan remaja yang lain. Dalam al-Quran, Allah swt. mengklasifikasikan kedudukan anak menjadi empat golongan, yaitu:
Pertama, ada anak sebagai musuh, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Tagobun ayat 14 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.
Kedua, anak sebagai fitnah atau ujian, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Tagobun ayat 15, yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anamu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.” Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negative. Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya.
Ketiga, anak sebagai perhiasan, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46, yang artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.
Keempat, anak sebagai penyejuk mata (qorrota a’yun) atau penyenang hati, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqon ayat 74, yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya. Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita. Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Dari ke-empat kedudukan anak tersbut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun. Namun untuk mencapainya diperlukan keserisuan dan ketekunan orang tua dalam membina mereka. Orang tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya. Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya. Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita ajak untuk shalat berjama’ah. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya. Kemudian, orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang baik dan berkualitas, juga mempraktikkan amalan-amalan sunnah di sekolah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua hendaknya memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat. Karena teman juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak mereka.
Semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita kepada kelompok qurrota a’yun, sehingga mereka menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat.

Melihat Surga Di Depan Mata

Disusun Oleh : Agus Hermawan

I. Surga
Surga adalah suatu pembalasan yang agung dan pahala tertinggi bagi para hamba Allah yang taat. Surga merupakan suatu kenikmatan sempurna. Tak ada sedikit pun kekurangannya. Tak ada kemuraman di dalamnya. Penggambaran surga yang difirmankan oleh Allah swt. dan disabdakan oleh Nabi saw., memang hampir tak mampu kita gambarkan dengan otak dan imajinasi kita yang terbatas ini. Betapa sulit membayangkan kenikmatan yang demikian besar. Sungguh kemampuan imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasannya.
Kita coba untuk memvisualisasikan dalam angan hadits Qudsi yang menceritakan tentang gambaran surga berikut ini, “Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”
“Seorang pun tak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. As-sajdah : 17)
Allah swt. menentukan hari masuknya ke surga pada waktu tertentu dan memutuskan jatah hidup di dunia pada batas waktu tertentu serta menyiapkan di dalam surga berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati. Dia memperlihatkan dengan jelas surga kepada mereka agar dapat melihatnya dengan mata hatinya karena penglihatan mata hati lebih tajam daripada pandangan mata kepala.
“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang. Jika ia penghuni surga, maka ia adalah penghuni surga. Jika ia penghuni neraka, maka ia adalah penghuni neraka. Kemudian dikatakan, Inilah kursimu hingga Allah Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat nanti.” (HR.Bukhari-Muslim)
Sungguh Nabi Muhammad saw. telah melihat di dekatnya terdapat surga tempat tinggal sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Anas dalam kisah Isra’ dan Mi’raj. Pada akhir hadits tersebut dijelaskan,
“Jibril berjalan terus hingga tiba di Sidratul Muntaha dan ternyata Sidratul Muntaha ditutup dengan warna yang tidak aku ketahui.” kata Rasulullah saw. lebih lanjut, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya terdapat kubah dari mutiara dan tanahnya beraroma kesturi. (HR.Bukhari-Muslim)
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar /39 :73)
Untuk memeri nama surga itu, Al Quran memberikan banyak gelaran seperti Jannatul Ma’wa (Surga tempat kembali), Jannatu ‘Adn (Surga sebagai tempat tinggal yang kekal), Darul Khulud (Perumahan yang kekal), Firdaus (Paradiso), Darus Salam (Perumahan kesejahteraan), Darul Maqamah (Perumahan ketenangan), Jannatun Na’im (Taman-taman kenikmatan), Maqam Amin (Kedudukan sentausa) dan lain-lain lagi.


II. Penghuni-penghuni surga
Surga itu tidak akan dimasuki melainkan oleh orang yang benar-benar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mulia serta bersifat dengan berbagai keutamaan dan keluhuran. Allah swt. berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111-112 :
“Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan mengaruniakan surga untuk mereka itu. Mereka berperang untuk membela agama Alah, sebab itu merekapun membunuh dan terbunuh, menuruti janji Allah yang tersebut dalam kitab Taurat, Injil dan Quran. Siapakah yang lebih menepati janjinya dari pada Allah? Oleh sebab itu, maka bergembiralah dengan perjanjian yang telah kamu semua perbuat. Yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar sekali. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah, orang-orang yang menyembah-Nya, orang-orang yang memuji-Nya, orang-orang yang berpuasa, orang-orang yang ruku, orang-orang yang sujud, orang-orang yang menyuruh mengerjakan kebajikan, orang-orang yang melarang mengerjakan keburukan dan orang-orang yang menjaga batas-batas hukum Allah, maka sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman itu”.
“”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela, tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Mu’Minun : 1-11)

III. Kenikmatan-Kenikmatan Surga
A. Sungai yang bermacam-macam
“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah sebagai suatu taman yang didalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang rasanya tetap tidak berganti-ganti, sungai-sungai dari anggur yang amat sedap rasanya bagi orang-orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang bening jernih. Disana mereka memperoleh segala macam buah-buahan serta pengampunan dari Tuhannya” ( QS. Muhammad : 15)
B. Rezeki berupa buah-buahan
“Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman serta mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, sesungguhnya mereka itu akan memperoleh taman-taman surga yang mengalirlah beberapa sungai di dalamnya. Setiap mereka mendapatkan pemberian rezeki dari surga dari semacam buah-buahan, mereka lalu berkata: “Ini adalah seperti rezeki yang kita terima sebelum sekarang”. Kepada mereka diberikanlah pemberian-pemberian yang serupa. Didalam surga itupun mereka akan memperoleh jodoh (pasangan) yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. ( QS. Al Baqarah : 25)
“Para ahli surga menerima buah-buahan, yang mana saja mereka bebas memilihnya, dan pula daging burung, mana saja yang mereka inginkan”. (QS AlWaqi’ah : 20-21)
C. Pakaian, Dipan dan Perlengkapan Makan dan Minum
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik (buah)nya. Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana Kristal, Kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukurannya yang sesuai (dengan kehendak mereka). Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air (di suga) yang dinamakan Salsabil”. (QS.Al Insan : 12-18)
“Kepada mereka itu diedarkanlah piring-piring dan gelas-gelas dari emas. Didalamnya terdapat semua apa yang diingini oleh hati dan yang sedap dipandang mata. Kamu semua akan kekal di situ selama-lamanya”. (QS. Az Zukhruf: 71)
D. Pelayan-pelayan di surga
“Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda-pemuda (pelayan) yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka berpakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci)”. ( QS. Al Insan : 19-21)
E. Bangunan Bertingkat-tingkat
“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka mendapat kamar-kamar (di surga), di atasnya terdapat pula kamar-kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Allah tidak akan memungkiri janji(nya). (QS. Az Zumar : 20)
F. Gadis-gadis (bidadari)
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan”. (QS. Yasin : 55-56)
“Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya”. (QS. Al Waqi’ah : 35-37)
“Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah, dan membatasi pandangannya, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik”. (QS. As-Saffat : 48-49)
G. Tidak bersifat dengki dan tidak merasa lelah
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berdiam di dalam taman-taman surga dan di tengah-tengahnya ada suatu air yang memancar. Kepada mereka dikatakan : “Masuklah kamu semua kedalamnya dengan aman sentosa”. Kami (Allah) telah membuangkan segala sifat kedengkian yang ada di dalam hati mereka, sehingga mereka itu merupakan saudara-saudara belaka, berhadap-hadapan di atas tempat duduk, Mereka tidak pernah tersentuh oleh rasa lelah dan mereka tidak akan dikeluarkan dari tempat itu”. (QS. Al Hijr : 45-48)
H. Tidak mendengarkan perkataan omong kosong
“Di dalam surga itu mereka tidak mendengarkan perkataan omong kosong dan tidak pula kata-kata yang menyebabkan dosa. Yang terdengar di situ hanyalah ucapan: “Salam (damai), salam (damai)”. (QS. Al Waqi’ah :25-26)
I. Surga memiliki delapan pintu
“Di surga terdapat delapan pintu. Ada pintu yang namanya Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Barang Siapa yang berinfak dengan sepasang unta atau kuda atau lainnya di jalan Allah swt., maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik. Barang Siapa yang rajin shalat, maka ia dipanggil di pintu shalat. Barang Siapa berjihad, maka ia dipanggil di pintu jihad. Barang Siapa rajin bershadaqah, maka ia masuk dari pintu shadaqah. Dan barang siapa puasa, maka ia dipanggil dari Ar-rayyan.”Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang dipanggil dari semua pintu tersebut? Rasulullah saw. menjawab,”Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka.”
“Siapa di antara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahulaa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluhu, maka dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan ia masuk dari mana saja yang ia sukai.” (HR. Imam Muslim)
“Jika seorang muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan ia bebas masuk dari pintu mana saja yang ia sukai.” (HR. Imam Muslim)
J. Tidak buang kotoran dan tidak meludah
“Mereka berbaris dalam satu regu, wajah mereka memancarkan kepuasan seperti rembulan saat pertama. Tubuh mereka bersih dari kotoran. Tidak meludah, tidak berdahak dan tidak pula buang air. Tempat-tempat singgahnya terbuat dari emas, sisirnya terbuat juga dari emas dan perak. Tempat apinya adalah kayud, keringatnya berupa minyak misyk, setiap lelaki memiliki pasangan istri yang kulitnya cemerlang seolah-olah sumsumnya tampak dari balik daging. Mereka tidak pernah berselisih, tidak saling membenci sebab mereka sehati. Bacaannya tiap kali adalah tasbih, setiap pagi maupun sore.” (HR. Imam Bukhari)
IV. Profil (penampilan) penghuni surga
“Penghuni surga masuk ke dalam surga dengan rambut pendek, belum berjenggot, matanya bercelak dan usianya tiga puluh tiga tahun.” (Imam Tirmidzi)
“Jika penghuni surga meninggal dunia, baik pada saat kecil atau tua, maka mereka dikembalikan dengan usia tiga puluh tahun di surga dan usianya tidak bertambah selama-lamanya. Begitu juga penghuni neraka.” (Imam Tirmidzi)
“Penghuni surga masuk surga dengan ketinggian Adam, enam puluh hasta dengan ukuran orang besar, dengan wajah tampan setampan Nabi Yusuf, Seusia Nabi Isa, tiga puluh tiga tahun, lidahnya fasih sefasih Nabi Muhammad, belum berjenggot dan berambut pendek.” (Ibnu Abu Dunya)
V. Kenikmatan surga yang tertinggi
“Wajah-wajah para ahli surga pada hari itu berseri-seri, karena dapat melihat kepada Tuhannya”. (QS. Al Qiyamah : 22-23)
“Dan penghuni surga yang paling tinggi atau mulia di sisi Allah adalah orang yang melihat wajah Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat, “Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada saat itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (HR. Tirmidzi)
Demikian uraian singkat tentang “Menatap Surga Di Depan Mata”. Mudah-mudahan kita semua diizinkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang-orang yang senantiasa istiqamah di dalam meniti hidup dan kehidupan ini, sehingga ketika ruh ini dicabut oleh-Nya kita menerima anugerah husnul khatimah. Sehingga kita termasuk dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dipanggil dengan penuh kelembutan: “Yaa ayyatuhan-nafsul muthma innah, irji-i ila Rabbiki raadhiatan mardhiyyah, fadkhulii fi ‘ibaadii wadkhulii jannatii.”
Wallaahu a’lam bish shawab
Daftar Pustaka :
1. Sayid Sabiq, Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman, CV Diponegoro, Bandung, 1996
2. http//www. Al-hikmah.ac.id
3. Al Quran Dan Terjemahnya , Departemen Agama RI, CV Pustaka Agung Harapan, 2006

Selasa, 31 Januari 2012

MUKJIZAT ILMIAH ALQURAN DALAM ILMU GEOLOGI

Dikutip dari karya Harun Nasution
Ilmu lapisan bumi

“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu adalah sesuatu yang padu kamudian Kami pisahkan antara keduanya. Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapa mereka tiada beriman?” (QS. Al Anbiya : 30)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya?’ (Yang bersifat demikian) itulah Tuhan semesta alam. Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. Penjelasan itu sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit sedangkan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ’Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ’Kami datang dengan suka hati….’ ” (QS. Fushshilat : 9-11)
Para ilmuwan telah menemukan bahwa bumi, matahari dan planet-planet, serta benda-benda langit lainnya semula adalah berupa nebula (sekumpulan bintang di langi yang tampak seperti massa debu dan gas berpijar dan bercahaya di luar angkasa), kemudian bumi terpisah dari kumpulan ini.
Terjadinya bumi
”Bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh.” (QS. An Nazi’at : 30-32)
Bentuk bumi
”Bumi sesudah itu dihamparkanNya.” (QS. An Nazi’at : 30)
”Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” (QS. Ar Rahman : 17)
”Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam.” (QS. Az Zumar : 5)
”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin :40)
Gunung yang bergerak
”Kamu lihat gunung-gunung itu, lalu kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan….” (QS. An Naml : 88)
14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13).
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Pengerutan bagian tepi-tepi bumi
”Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami mendatangi daerah-daerah (orang kafir) lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya. Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya) tidak ada yang dapat menolak kehendakNya. Dialah Yang Mahacepat hisabNya.” (QS. Ar Ra’d : 41)
”Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Apakah mereka tidak melihat bahwa kami mendatangi negeri orang (kafir) lalu kami kurangi luasnya dari segala penjurunya, maka apakah mereka yang menang ?” (QS. Al Anbiya : 44)
Keseimbangan bumi
Ilmu modern menerangkan bahwa gunung terjadi dari dua lempeng raksasa yang saling bertumbukan. Bagian dari lempengan itu ada yang melipat ke bawah dan ke atas. Ahli geologi menyatakan, fungsi gunung adalah sebagai isotasi, yakni kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi
”Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung itu sebagai pasak ?” (QS. An Naba : 6-7)
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS. Al Anbiya : 31)
”Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu.” (QS. An Nahl : 15)
Perbedaan tanah di bumi
”Di bumi itu terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’d : 4)
Perembesan air
“Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi. Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al Mu’minun : 18)
Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus. Lalu, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan ?” (QS. As Sajdah : 27)
”Katakanlah, ’Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu ?” (QS. Al Mulk : 30)
”Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al Kahfi : 41)
Pancaran air dari bebatuan
”Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 74)

Senin, 30 Januari 2012

PSIKOLOGI DAKWAH

Disampaikan Oleh : KH.Nandi Naqsabandi Aziz, MA
Pada acara kuliah Mubalighin, LTM-NU, Ahad, 29 Januari 2012
Ditulis ulang oleh Agus Hermawan S.Ag

Sebelum berceramah, kita hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Lihat dulu kondisi jama’ahnya
2. Bicara sesuai dengan kadar pengetahuan jama’ahnya
3. Pandangan (pola pikir) harus luas, jangan picik
4. Menyampaikan ceramah dengan cara/retorika yang baik
5. Melengkapi diri dengan berbagai ilmu
6. Mendiskusikan terlebih dahulu materi yang akan disampaikan
7. Banyak menghafal ayat dan hadits
8. Berceramah berdasar dorongan hati dan otak
9. Materi yang diucapkan harus sesuatu yang (anda anggap) mendesak dan kuat
10. Harus ikhlas, tidak mengharapkan “salam tempel”
11. Jangan berceramah kalau : menahan ke wc, sakit, lapar, haus, lesu, letih, pikiran kacau
12. Pakaian harus rapi, wajah senyum, sebelum bicara sudah menarik
13. Atraktif, harus serba menarik, seperti: sikap, air muka menarik, pakaian, gerak-gerik.
14. Rasa cinta yang memancar kepada pendengar (audience)
15. Berbicara dari hati, maka akan sampai ke hati pula
16. Ketika membaca ayat boleh dilagukan
17. Pendahuluan bagaikan iklan (harus menarik), seperti: padat, gaya bahasa menarik, surprise, diluar dugaan, mengundang orang lain ingin tahu,
18. Perbaiki bahasa dengan membaca buku-buku sastrawan, karangan orang-orang besar, kamus bahasa Indonesia, jangan memakai istilah yang telah usang
19. Pengucapan bahasa harus fasih, baik dalam bahasa Inggris, Cina, Arab, dan lain-lain.
20. Senjata pidato atau ceramah: doa, pepatah-pepitih, humor/lelucon, semangat berapi-api, syahdu, lagu-lagu, alat peraga.

Jumat, 27 Januari 2012

Resensi buku "Gurunya Manusia" Bab 1, Penulis : Munif Chatib

Majulah Pendidikan Indonesia
Untuk dapat memajukan mutu pendidikan di Indonesia, harus ada upaya-upaya dari pihak pemerintah dan pengelola sekolah untuk selalu meningkatkan keilmuan dan kemampuan para guru dalam mengajar. Karena output pembelajaran di sekolah-sekolah tergantung pada bagaimana proses pembelajaran siswa-siswinya sehari-hari, serta dipengaruhi pula oleh kompetensi yang dimiliki oleh para guru. Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru di Indonesia diharapkan punya empat kompetensi dalam menjalankan profesinya, yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi profesionalisme, dan kompetensi sosial.
Kompetensi pedagogi adalah kemampun mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar; dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil,dewasa, dan berwibawa-yang akan menjadi teladan bagi peserta didik- serta berakhlak mulia. Kompetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing siswa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari msyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif di antara peserta didik, sesama pendidik, teaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Dalam gurunya manusia, tidak ada siswa yang bodoh. Ungkapan-ugkapan yang memojokkan siswa seharusnya tidak perlu dilakukan oleh guru. Upaya untuk memahami cara belajar siswa memang bukan hal yang mudah, dibutuhkan keterampilan dan seni tingkat tinggi. Betapa sulitnya meyakinkan para guru bahwa setiap siswa punya gaya belajar masing-masing, yang juga selalu berubah. Informasi akan masuk ke dalam otak siswa dan tak terlupakan seumur hidup siswa tesebut. Artinya, setiap guru harus mahir mengajar dengan strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Apabila paradigma ini benar-benar dipahami oleh guru, guru tidak akan dengan mudah memberikan label siswa bodoh atau siswa tidak becus.

Mengingat begitu pentingnya peningkatan kualitas mengajar para guru, maka hal yang terpenting dalam program-program peningkatan kualitas tersebut adalah niat dan kemauan guru untuk kreatif dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan pekerjaannya. Ahmad Rizal, seorang pemerhati pendidikan, dalam bukunya yang berjudul Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional (Grasindo, 2009) mengatakan bahwa ternyata, ada guru yang secar mental tidak siap dilatih, bahkan jumlahnya cukup besar. Guru model demikian-menurut Ahmad Rizal-adalah guru yang tidak punya kemampuan apapun. Persis seperti robot, baru bekerja setelah ada perintah dan selalu menuntut hak terlebih dahulu sebelum menunaikan kewajibannya dengan baik. Namun, sedikit sekali guru yang berkonsentrasi untuk belajar dan mengajar dengan baik. Sehari-hari, waktu bekerja guru jenis ini hanya fokus pada menentukan cara agar ilmu yang diajarkan dapat diterima dengan mudah oleh setiap siswa.
Frekuensi waktu belajar para guru di sekolah sangat menentukan baik atau tidaknya kualitas sekolah tersebut. Apabila guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti belajar, dan pertanyaan yang sulit dijawab, yaitu kapan dan di manakah guru harus belajar? Ada beberapa cara agar guru dapat selalu belajar, yaitu:
1. Membentuk Divisi Guardian Angel (GA) sang malaikat penyelamat, yaitu divisi khusus untuk pelatihan dan pengembangan guru di tiap sekolah. Seperti mendesain prioritas pelatihan guru, memberikan konsultsi lesson plan kepada guru.
2. Program bedah buku secara reguler, yaitu setiap ada buku baru tentang pendidikan, para guru di sekolah harus membedah buku tersebut.
3. Program Tamu Kita Minggu Ini, yaitu sebuah program yang diikuti ileh guru bidang studi tertentu atau gabungan beberapa bidang studi untuk membicarakan “tamu” mereka, yaitu seorang siswa yang mungkin menghadapi masalah dalam belajar.
Dilihat dari faktor kemauan untuk maju, guru dikelompokkan menjadi tiga jenis,
1. Guru robot, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk kelas, mengajar lalu pulang. Mereka hanya peduli pada beban materi yang harus dismpaikan kepada siswa. Mereka tak peduli terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi, apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah pada umumnya. Mereka tidak peduli dan mirip robot yang selalu menjalankan perintah sesuai program yang sudah disusun. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan:
* “Wah, itu bukan masalahku, tapi masalah kamu. Jadi, selesaikan sendiri !”
* “Maaf, saya tidak dapat membantu sebab ini bukan tugas saya...”
2. Guru materialistis, yaitu guru yang selalu melakukan perhitungan, mirip degan aktivitas bisnis jual beli. Yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka terima, barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan sesuai hak yang mereka terima.
Ungkapan-ungkapan yang banyak kita dengar dari guru jenis ini, antara lain:
* “Cuma digaji sekian saja, kok mengharapkan saya total dalam mengajar, jangan harap, ya!”
* “Percuma mau kreatif, penghasilan yang diberikan kepada saya hanya Cuma untuk biaya transport...”
* “Kalau mengharapkan saya bekerja baik, ya turuti dong permintaan gaji saya sebesar sekian!”
3. Gurunya manusia, yaitu guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas, akan berintrospeksi apabila ada siswa yang tidak memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar sebab mereka sadar, profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan pengembangan kompetensi.

Selasa, 24 Januari 2012

Nabi Isa as. menurut Al-Quran

Disusun Oleh: Agus Hermawan, S.Ag

1. Kelahiran Isa sebagai anak dari Maryam tanpa ayah (QS. Ali Imran: 45-47)
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),(45)
dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa,dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh."(46) Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (47)

2. Ucapan Isa sewaktu masih bayi (QS. Maryam: 30-32)
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi (30) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; (31) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.(32)

3. Allah swt. tidak mempunyai anak, dan Nabi Isa as. bukan Tuhan (QS. Maryam: 35-37)
Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.(35) Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.(36) Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.(37)
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (QS. Al-Ikhlash: 3)

4. Mukjizat Nabi Isa as. (QS.Al-Maaidah: 110)
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."

5. Nabi Isa as. tidak dibunuh ataupun disalib (QS.An-Nisaa’:157-158)
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.(157) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(158)

22 Dampak Perbuatan Maksiat Menurut Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Disusun oleh : Agus Hermawan, S.Ag

Firman Allah swt. yang artinya:

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang mereka kekal di dalamnya, dan baginya azab yang menghinakan” (Q.S. An Nisaa’ : 14)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
(Q.S. An Nisaa’ : 110 – 111)

Rasulullah saw. Bersabda:

“Seorang mukmin jika berbuat suatu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah hitam. Jika dia bertobat dan istighfar, hatinya akan kembali putih dan bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itupun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat “Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka “ (H.R. Tirmizi)

Adapun dampak dari perbuatan maksiat adalah :

1. Maksiat menghalangi kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
2. Maksiat akan menghalangi rezeki
3. Maksiat membuat kita jauh dari Allah swt.
4. Maksiat membuat kita jauh dari orang-orang baik
5. Maksiat membuat sulit semua urusan kita
6. Maksiat melemahkan hati dan badan
7. Maksiat menghalangi kita untuk taat kepada Allah swt.
8. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan
9. Maksiat menumbuhkan maksiat yang lain
10. Maksiat mematikan bisikan hati nurani
11. Maksiat dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat
12. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat
13. Maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinaan
14. Maksiat merusak akal kita
15. Maksiat dapat mentup hati manusia
16. Pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.
17. Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah saw. dan malaikat
18. Maksiat melenyapkan rasa malu
19. Maksiat yang kita lakukan berarti meremehkan Allah swt.
20. Maksiat memalingkan perhatian Allah dari diri kita
21. Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab
22. Maksiat memalingkan diri kita dari istiqomah

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”
(Q.S. Al Hasyr : 19)


Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang gemar berbuat dosa atau maksiat, dan ter- lindung dari godaan dan ajakan syetan .

ANJURAN BERBUAT KEBAIKAN

Disusun Oleh: Agus Hermawan, S.Ag
I. Firman Allah swt:
“ Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan “kehidupan yang baik”, seperti:
1. Abdullah bin Abbas ra. : rezeki yang baik dan halal di dunia
2. Abdullah bin Abbas ra. : sa’adah (kebahagiaan)
3. Ali bin Abi Thalib, Al Hasan Al Basri : qona’ah (kecukupan)
4. Abu Bakar al Waroq : lezatnya ketaatan
5. Abdurrahman bin Nashr As Sa’di : ketenangan jiwa dan hati serta tidak terpengaruh dengan adanya yang mengganggu ketenangan hatinya, sehingga Allah memberikan rezeki yang baik dan halal kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka
6. Abul Fida’ Ibnu Katsir ra. : kehidupan yang baik mencakup seluruh bentuk kelapangan dari segala sisi.
7. Qotadah, Mujahid, Ibn Zaid ra. : kehidupan yang baik di akhirat berupa surga
8. Abu Ghasan dari Syarik : kehidupan yang baik di alam kubur
Adapun tentang janji yang Allah berikan berupa pahala yang lebih baik, berkata Abu Bakar Al jaza’iri hafidzahullah, bahwa “yang mendapatkan janji ini adalah ahli iman dan amal soleh, yaitu keimanan yang benar, mengantarkan kepada amalan soleh, bersih dari syirik dan maksiyat. Merekalah yang akan memetik janji dari Allah berupa kehidupan yang baik, kecukupan, makanan dan minuman yang lezat, serta bersih dari noda (kotoran). Ini di dunia. Adapun di akhirat, mereka akan memperoleh surga dan balasan yang terbaik dari setiap jenis amalan yang telah mereka kerjakan (Aisar At Tafsir).”

II. Hadits Nabi Muhammad saw.
“Mu’adz berkata: Rasulullah saw. mewasiati/menasihati saya, seraya beliau bersada: Wahai Mu’adz, saya wasiati/nasihati kamu agar bertakwa kepada Allah, benar/jujur pembicaraan, setia pada janji, tunaikan amanat, tinggalkan khianat, jaga hubungan baik dengan tetangga, santun terhadap anak yatim, lemah lembut pembicaraan, sebarkan salam, baik amal, sedikit angan-angan, konsekuen dengan keimanan, fahami Alquran, cinta akhirat, merasa susah memikirkan hisab amal, rendahkan sayap (sopan santun). Dan saya melarang kamu mencaci maki orang yang bijaksana, atau mendustakan orang yang benar/jujur, atau tunduk patuh pada orang yang berdosa, atau melanggar perintah dan larangan pemimpin yang adil, atau merusak bumi. Dan saya nasihati kamu agar bertakwa kepada Allah pada setiap batu, kayu, dan tanah (jangan merusak ketiga unsur tersebut) dan kamu harus ikuti setiap dosa dengan tobat. Dosa yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tobatnya dengan sembunyi-sembunyi pula, dosa yang dikerjakan dengan terang-terangan, tobatnya dengan terang-terangan pula. (Diriwayatkan oleh Al Kharaithi, Al Baihaqi dan Abu Nu’aim)

III. Daftar Pustaka
Ahlussunahpalopo.blogspot.com
Muhammad, Abu Bakar, Hadits Tarbiyah, Surabaya: Al khlas, 1995

Rabu, 13 April 2011

9 Cara syetan menyesatkan manusia

Setan memang tidak bisa terlihat oleh manusia namun manusia bisa mengenali setan lewat metode – metode yang dia gunakan untuk menyesatkan manusia. Berikut cara – cara yang digunakan oleh setan untuk menjauhkan manusia dari kebenaran :
1. Menjadikan sesuatu yang mungkar nampak baik atau indah
Kemungkaran, hakikatnya mempunyai nama, bentuk dan akibat yang sangat buruk. Karena keburukannya tak ada manusia yang mau melakukannya, tapi berkat usaha setan menutupinya dengan kebaikan dan menghiasinya dengan keindahan, membuat manusia tak segan – segan untuk melakukannya.
“Wahai Tuhanku, karena engkau telah menetapkan aku sesat, maka aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS Al Hijr 39)
Setan adalah penipu ulung sekaligus entrepreneur handal yang sangat paham cara mempromosikan barang dagangannya. Dia bungkus racun mematikan dengan kemasan madu yang menyehatkan.
2. Menamai perbuatan maksiat dengan nama – nama yang disenangi
Dengan memberi nama yang disukai manusia pada kemaksiatan maka sisi keburukan dan kekejiannya tertutupi. Nama yang disukai tentu akan menjadi daya tarik…menjadi iklan yang membuat manusia penasaran ingin mencoba. Setanlah yang memberi nama pohon yang dilarang Allah untuk didekati dengan nama pohon khuldi (pohon kekekalan). Allah menceritakannya di dalam Al Qur’an :
“Kemudian setan membisikkan pikiran buruk kepadanya dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (pohon kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (QS Thoha 120)
Dia bisikkan kepada manusia agar menamai riba sebagai bunga, berpose telanjang, menari seronok sebagai seni, memamerkan aurat tanpa rasa malu sedikitpun sebagai kontes ratu kecantikan dlsb.
3. Menamai perbuatan baik dengan nama yang tidak disukai
Kebenaran mempunyai pancaran cahaya yang terang. Andai kebenaran itu disajikan apa adanya tanpa dijelek – jelekkan bentuknya, niscaya jiwa manusia akan segera menghampirinya, pandangan dan pendengaran mereka akan tertuju padanya. Oleh karena itulah, setan berusaha menggambarkan kebenaran dengan bentuk yang jelek dan rupa yang buruk, serta menyebutnya dengan sebutan yang tidak disukai.
Setanlah yang membisikkan kepada kafir Quraisy untuk menjuluki Rasulullah saw dengan julukan penyihir, dukun, penyair yang terkena sihir dan julukan lain yang membuat orang tidak suka dengan beliau.
“Dan orang – orang zalim itu berkata, ‘Kalian semua tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.’”(QS Al Furqon 8 )
Setan pula yang membisikkan kepada bala tentaranya agar menamai orang – orang yang berpegang teguh dengan petunjuk Nabi saw dan menjadikan sunnah – sunnah beliau sebagai jalan hidup dengan sebutan orang yang fanatik. Para wanita yang memegang teguh perintah Tuhannya dan senantiasa berdiam di rumah mereka sebut kuper. Jilbab yang sesuai syariat mereka namai kemah berjalan.
4. Menakut – nakuti manusia dengan kemiskinan dan penderitaan
Kemiskinan, kesengsaraan dan penderitaan adalah hal yang sangat di takuti manusia. Dan setan tahu itu, sehingga dia gunakan ketakutan – ketakutan tersebut untuk menyesatkan manusia.
“Setan itu menjanjikan kemiskinan kepada kalian.”(QS Al Baqarah 268)
Setanlah yang menakut – nakuti pengikut – pengikut Fir’aun agar tidak menerima ajaran Nabi Musa dan Nabi Harun.
“Sesungguhnya dua orang ini adalah benar – benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihir mereka dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang terpandang.”(QS Thoha 63)
Begitu pula yang terjadi pada penduduk Madyan.
“Sungguh, jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu (menjadi) orang – orang yang merugi.”(QS Al A’raf 90)
Setan tampakkan kemiskinan dan kekurangan harta dimata manusia agar orang – orang enggan membayar zakat dan bersedekah.
5. Masuk ke dalam hati manusia melalui perkara yang paling disenangi
Itulah pintu yang paling mudah untuk dimasuki setan karena jika sudah berhadapan dengan hal – hal yang menyenangkan seringkali manusia menjadi lupa diri hingga tidak sadar telah disesatkan oleh setan. Bentuk – bentuk kesenangan itu ada beberapa macam, “Diri manusia dihiasi kecintaan kepada wanita, anak – anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang – binatang ternak dan sawah ladang.”(QS Ali Imran 14)
Setan biasa dan bisa menggunakan kesenangan – kesenangan tersebut sebagai senjata untuk menaklukan manusia dalam kesesatan.
“Sepeninggalku tidak ada bahaya ditengah – tengah manusia yang lebih berbahaya bagi laki – laki daripada bahaya perempuan.”(HR Muslim, Ahmad, Nasa’i)
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah bersepi – sepi dengan wanita yang tidak sedang bersama mahramnya, karena pihak ketiganya adalah setan.”(Muttafaqun ‘alaih)
6. Menyesatkan manusia secara bertahap
Sangat mustahil setan mendatangi manusia, lalu secara spontan mengatakan, “Lakukanlah perbuatan maksiat ini atau nikmatilah perbuatan mungkar ini!” Setan akan mendekati manusia dengan cara bertahap, sedikit demi sedikit dan selangkah demi selangkah. Dimulai dari pandangan, berubah jadi senyuman, lalu menjadi percakapan, terus melakukan janjian dan akhirnya menjadi sebuah pertemuan. Seperti itulah kira – kira langkah – langkah yang dilakukan setan. Allah swt memperingatkan :
“Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah – langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah – langkah setan, maka (dia akan jatuh dalam perbuatan yang dilarang), karena sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.”(QS An Nur 21)
7. Menghalangi manusia dari jalan kebenaran
Setan telah berikrar kepada Allah untuk menggoda dan menyesatkan umat manusia agar tidak ada lagi hamba – hamba yang mengagungkan dan menyembah Allah.
“Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menetapkan saya tersesat, maka saya benar – benar akan (menghalang – halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”"(QS Al A’raf 16-17)
Setan menyerang dari berbagai arah dari depan, belakang, kanan dan kiri manusia. Menurut para ulama dari depan berarti dari sisi dunia, dari belakang berarti dari sisi akhirat, dari arah kanan berarti dari sisi kebaikan – kebaikan dan dari arah kiri berarti dari sisi kejelekan – kejelekan manusia. Ibnu Abbas r.a berkata, “Setan tidak mengatakan dari atas mereka, karena dia mengetahui bahwa Allah ada di atas mereka.”
8. Menampakkan diri sebagai pemberi nasihat bagi manusia
Tidak mungkin setan berkata, “Lakukan kemaksiatan agar kamu mendapat siksa yang pedih.” Setan akan selalu mengklaim dirinya sebagai pemberi nasihat yang baik. Itu pulalah yang dikatakannya kepada Adam as saat dia membujuk agar Adam dan Hawa mau memakan buah khuldi.
“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’”(QS Al A’raf 21)
9. Meminta bantuan kepada setan dari jenis manusia
Bila setan telah lelah dan merasa tidak mampu menyesatkan orang – orang yang mempunyai keimanan yang kuat, ia akan meminta bantuan kepada penolong – penolong dari kalangan manusia untuk mewujudkan keinginannya.
“Sesungguhnya setan membisikkan kepada kawan – kawannya agar mereka membantah kalian. Jika kalian menuruti mereka sesungguhnya kalian tentu menjadi orang – orang musyrik.”(QS Al An’am 121)
Setan yang berwujud manusia biasanya lebih berat dihadapi daripada setan dari kalangan jin. Karena bisa saja manusia tersebut adalah orang terdekat kita.
Akhirnya, untuk menghalau setiap godaan setan sebaiknya seseorang memiliki 3 hal :
1. Mempunyai ilmu agama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Orang berilmu lebih tangguh dihadapan setan daripada seribu ahli ibadah (yang kurang ilmu).”
2. Taubat dan minta ampun.
3. Banyak mengingat Allah. Baik lewat zikir, sholat maupun do’a.
Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari godaan setan yang terkutuk.
Dipetik dari buku : Cara Setan Menyesatkan Manusia (Thuruqusy Syaithon Fi Idlalil Insan) oleh Wahid Abdussalam Bali

Rabu, 06 April 2011

TUJUH KIAT MENGHADAPI KESULITAN HIDUP

Tujuh Kiat Mengatasi Kesulitan Hidup

Setiap manusia tentunya menginginkan mendapatkan kebahagiaan, kebaikan, dan kesejahteraan serta kemudahan dalam hidupnya. Seperti rezeki yang cukup dan berkah, jasmani yang sehat, usaha yang lancar, keluarga yang harmonis, serta berbagai kebaikan-kebaikan yang lain. Namun terkadang justru yang datang kepadanya adalah sebaliknya, yakni berbagai macam kesulitan, keburukan dan kesengsaraan hidup. Mengapa ini terjadi kepada kita?

Jangan berburuk sangka dulu kepada Allah swt., setiap keburukan yang datang, itu adalah merupakan ujian keimanan kita, apakah kita bersabar menghadapinya, ataukah kita berputus asa atau bahkan menghujat dan menyalahkan Allah swt., dengan mengatakan “Allah tidak adil, Allah tidak sayang kepada saya.”(misalnya). Justru dengan musibah atau ujian dan cobaan itu Allah sayang kepada kita, karena siapa orang yang bersabar dan tetap teguh keimanan dan ibadahnya kepada Allah swt., walau diterpa berbagai macam kesulitan, maka Allah swt. akan mengangkat derajatnya serta mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Sabda Nabi Muhammad saw. “Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhuma dari Nabi Shallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : Tidaklah seorang muslim tertimpa sesuatu kelelahan atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan atau gangguan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim )

Nah, sebagai tanda sayangnya Allah swt. kepada kita, melalui kitab suci-Nya yang mulia
(Al Quran), Allah swt. memberikan tujuh kiat untuk menghadapi kesulitan hidup, sebagai berikut:

1. Bersikap sabar
2. Melaksanakan shalat
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al Baqarah : 153)

3. Suka bersedekah (memberikan harta)
4. Bertakwa dengan sebenar-benarnya kepada Allah swt.
5. Membenarkan pahala yang terbaik (syurga)
“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (syurga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al Lail : 5 – 7)

6. Berikhtiar (berusaha) merubah keadaan
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’ad : 11)

7. Jangan berputus asa kepada Allah swt.
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah : 5-6)

UJIAN KEIMANAN

UJIAN KEIMANAN ( Dialog manusia dengan Al Quran )


1. Kenapa aku diuji ?

“Apakah manusia mengira bahwa, mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al ‘Ankabut ; 2-3)


2. Kenapa aku tidak mendapatkan apa yang aku idam-idamkan ?

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)


3. Kenapa ujian seberat ini ?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS.Al Baqarah : 286)


4. Dengan apa aku diuji ?

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al Anbiyaa’ : 35)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)


5. Rasa frustasi ?

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. (QS. Ali Imran : 139)


6. Bagaimana aku harus menghadapinya ?

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran : 200)

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS. Al Baqarah : 45)




7. Apa jalan keluarnya ?

“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (syurga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al Lail : 5 – 7)

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”
(QS. Ath Thalaq : 7)


8. Apa yang aku dapat dari semua ini ?

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan surga untuk mereka.” (QS. At Taubah : 111)

“Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhuma dari Nabi Shallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : Tidaklah seorang muslim tertimpa sesuatu kelelahan atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan atau gangguan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim ) (Kitab shahih Bukhari no.5642, dan Kitab shahih Muslim no. 2573)


9. Kepada siapa aku berharap ?

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (QS. At Taubah : 129)


10. Aku tak dapat tahan lagi ?

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Rabu, 19 Januari 2011

Keluargaku, madrasahku

Peran orang tua dalam mendidik anak sangat terlihat jelas pada keluarga. Keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak, keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar mengenal kehidupannya. Karena di dalam keluarga, anak akan merasa tenteram dan nyaman untuk melangsungkan kehidupannya. Bahkan dalam hadits Nabi Muhammad saw. bersabda : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi (H.R. Bukhari Muslim)
Peran orang tua dalam mendidik anak tidak hanya terbatas dalam memberi makan, minum, membelikan pakaian baru, dan tempat berteduh yang nyaman. Beberapa hal tersebut bukan berarti tidak perlu, sangat perlu. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak.
Beberapa peran orang tua dalam mendidik anak yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Menanamkan Pandangan Hidup Beragama
Peran orang tua dalam mendidik anak bisa dilakukan dengan memberikan penanaman beragama pada masa kanak-kanak, bahkan Islam mengajarkan pada waktu anak di dalam kandungan ibu-pun orang tua diharapkan dapat memberikan stimulus (rangsangan) keimanan kepada Allah swt. dengan cara banyak memperdengarkan bacaan ayat-ayat suci Al Quran dan shalawat Nabi kepada sang janin. Dan ketika bayi telah dilahirkan , Nabi saw. mengajarkan kita untuk mengazankannya, karena itu merupakan sunnah yang diajarkan kepada orang tua yang baru kelahiran bayi. Barangkali salah satu hikmahnya adalah bahwa kalimat pertama yang diperdengarkan pertama kali adalah kalimat tauhid (kalimat thayyibah).

Diriwayatkan oleh Abi Rafi‘ bahwa Nabi saw. mengazani telinga al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah ra. (HR Abu Daud, At-Tirmizy dengan sanad shahih). Ada juga khabar dari Ibnu As-Sinni dari Al-Hasan bin Ali dengan sanad marfu‘, Siapa yang mendapat kelahiran anak lalu mengazanilah pada telinga kanannya dan mengiiqamati pada telinga kirinya, maka tidak akan dicelakakan jin. Hadits lainnya adalah: Dari Ibni Abbas ra. Bahwa Nabi SAW mengazani telinga kanan Hasan bin Ali pada hari kelahirannya dan mengiqamati telinga kanannya.
Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan memang dalam sanad keduanya ada dho‘f (hadits dhaif). Namun hadits yang pertama yang isiya tentang azan tanpa iqamat adalah hadits shahih.


Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling baik untuk mengenalkan dasar-dasar hidup beragama. Penanaman hidup beragama ini bisa dilakukan dengan mengajak anak-anak untuk ikut serta pergi ke masjid bersama orang tua menjalankan ibadah, mendengarkan kultum, maupun ceramah agama. Bila semasa kecilnya anak tidak dikenalkan dengan agama, tidak pernah pergi bersama orang tua ke masjid mendengarkan ceramah maupun sholat berjamaah, maka setelah dewasa mereka pun tidak ada perhatian terhadap hidup beragama. Untuk itu, peran orang tua dalam mendidik anak sangat perlu diperhatikan di awal masa kanak-kanaknya.

2. Memberi Keteladanan Beragama
Pendidikan keteladanan di mulai dari keluarga dan diajarkan pula di sekolah. Anak sudah harus diarahkan untuk mengikuti hal-hal baik yang dilakukan oleh para orang dewasa agar mereka mendapatkan contoh kongkrit dari apa yang dilihatnya. Seorang anak adalah mesin foto copy yang canggih, apapun yang diperbuat oleh bapak dan ibunya maupun lingkungan keluarga akan di contoh oleh si anak, sekarang kemana si anak akan di arahkan? Oleh karena itu bijaklah dalam berbicara maupun bertindak, ingatlah dalam keluarga ada yang sedang menjiplak anda.
Pendidikan anak diawali dari rumah. Oleh karenanya semakin besar anak, sebagai orang tua harus semakin berhati-hati bertingkah laku & berkata-kata, takut anak meniru yang buruk. Anak-anak adalah peniru yang baik.
Pendidikan keteladanan sebenarnya ada dalam rumah-rumah kita. Dia bersemayam dalam hati kita masing-masing, karena pada hakekatnya keteladanan muncul dari dalam diri. Hal itu terlihat dari bagaimana seorang ayah yang melindungi anak-anaknya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Bagaimana seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan belaian lembut seorang ibu. Semua itu mereka lakukan demi keberlangsungan hidup anak-anaknya. Ketika ayah dan ibu tak menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ketika seorang kakak tak memberikan teladan kepada adiknya, dan ketika yang tua tak memberikan teladan kepada yang muda. Apa yang terjadi?
Kita tentu akan melihat bahwa budi pekerti telah hilang dari dalam diri. Mereka yang muda tentu akan mengikuti gaya orang tuanya. Bila orang tuanya baik, maka anak pun akan cenderung baik. Ketika orang tuanya jahat, maka anak pun akan berkecenderungan jahat pula. Pendidikan keteladanan harus dimulai dari keluarga. Para orang tua harus dapat memberikan keteladanan kepada anak-anaknya.
Ketika orang tua mengajak anaknya untuk beribadah, maka orang tuanya itu harus memberikan keteladanan lebih dulu. Jangan sekali-kali mengajak anak untuk beribadah, ketika orang tua tak melakukannya. Sebab bila itu terjadi anak akan protes dan cenderuang memaki dan mengumpat. Bisa saja keluar kalimat, “ayah saja tidak sholat, dan ibu saja tidak mengaji”. Pada akhirnya anak melihat kelakuan buruk orang tuanya. Anak akan cepat meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Keteladanan positif pun tak terjadi.
Menjadi orang tua ideal perlu ilmu. Menjadi guru ideal juga perlu ilmu. jika orang tua dan guru mengamalkan ilmunya dengan benar, saya yakin keteladanan bisa diberikan pada anak. Sayangnya, banyak suami istri tidak mencari ilmu mendidik anak karena sibuk dengan urusan pemenuhan kebutuhan keluarga. Mereka mengandalkan guru di sekolah untuk mendidik anaknya. Namun, ternyata guru telanjur dipusingkan dengan urusan administrasi sekolah dan urusan keluarga. mereka hanya sempat mentransfer materi pelajaran tapi lupa menanamkan keteladanan. Kalau sudah begitu, semoga kita tidak termasuk golongan orang yang merugi.
Pendidikan keteladanan harus dipupuk dari anak masih usia dini. Tentu memori otaknya akan menyimpan semua hal baik yang dilihatnya. Tetapi bila kita sebagai orang tua tak memberikan keteladanan, maka jangan salahkan bila anak kita berkelakukan kurang ajar. Dalam dunia persekolahan kita, pendidikan keteladanan harus diberikan guru kepada anak didiknya. Menyatu dalam kurikulum yang bernama pendidikan karakter. Di sinilah fungsi mendidik itu diperkukan. Para peserta didik diajarkan bagaimana mencontoh hal-hal baik yang ada dalam kehidupannya sehari-hari. Banyak orang tua lupa bahwa mereka itu guru pertama bagi anaknya. Keluarga itu adalah sekolah pertama anak. Merah, putih, dan hitamnya anak tergantung pada orang tuanya.

3. Mengajarkan Nilai-nilai Kebaikan
Anak berbeda dengan orang dewasa. Daya pikir dan imajinasinya yang masih sederhana terkadang menimbulkan kesulitan bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang sifatnya abstrak. Di antaranya, bagaimana mengajari anak untuk senang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejelekan. Namun sesulit apapun, di sana akan selalu ada jalan.
Anak-anak tumbuh dan berkembang. Tak bisa tidak, mereka pasti akan berhadapan dengan lingkungannya: lingkungan keluarga, lingkungan belajarnya, dan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Tak selamanya yang tampak dalam lingkungannya adalah kebaikan. Entah suatu saat, suatu kesalahan atau keburukan mungkin akan terjadi di hadapan mereka. Terlebih lagi bagi orang yang memiliki mata hati, kini tampak banyak kerusakan yang tersebar.
Tentu takkan ada yang berharap anak mereka turut jatuh dalam kerusakan itu. Bahkan mestinya setiap ayah dan ibu berharap anak mereka terjauh dari semua itu. Lebih dari itu, mestinya setiap ayah dan ibu berharap agar buah hati mereka mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan, sesuai kemampuan yang ada pada mereka.



Inilah pula yang diharapkan oleh Luqman ketika dia berpesan kepada anaknya:
“Dan perintahkanlah manusia untuk melakukan kebaikan dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar…” (Luqman:17)
Demikianlah Luqman Al-Hakim mengajarkan kepada anaknya untuk memerintahkan manusia melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran sejauh kemampuan dan kesungguhannya. Demikian pula yang semestinya diajarkan kepada anak-anak.
Orang tua juga sebaiknya mengajarkan nilai-nilai akhlakul karimah kepada anak-anaknya, seperti jujur, ikhlas, syukur, sabar, tanggung jawab, serta saling berbagi, saling mengasihi dan tolong menolong terhadap sesama. Insyaallah, jika akhlak-akhlak yang mulia ini telah tertanam dalam diri anak, serta telah teraplikasikan dalam kehidupan mereka, niscaya harapan setiap orang tua agar anak-anaknya menjadi saleh dan salehah akan tercapai.

4. Mencegah Pengaruh Buruk Dari Lingkungan dan Media Informasi
Tidak dapat dipungkiri, bahwa lingkungan tempat tinggal, bermain dan belajar anak sangat mempengaruhi tingkat keberagamaan seorang anak. Oleh karenanya orang tua harus selalu memperhatikan keberadaan lingkungan bagi anaknya tersebut. Pengaruh-pegaruh buruk yang dapat muncul dari lingkungan dan dari media informasi hendaknya dapat dicegah oleh orang tua. Caranya ialah dengan mengawasi dan mengontrol dengan siapa dia bermain atau berteman, baik teman di rumah maupun di sekolahnya. Juga dengan cara menemani anak jika sedang menonton televisi, jika ada tayangan-tayangan yang tidak baik, hendaknya bisa dipindah atau diberi arahan oleh orang tua. Belum lagi jika sang anak tersebut sudah memiliki HP yang dapat mengakses jaringan internet, ini orang tua harus lebih ketat lagi memeriksa HP tersebut, agar tidak ada situs-situs pornografi dan hal-hal yang menyesatkan yang masuk di dalamnya. Begitu pula dengan perkembangan mode pakaian dan rambut, para orang tua hendaknya dapat mengarahkan anak-anaknya agar tidak mengikuti tren-tren fashion para selebritis yang tidak Islami.
Dari uraian materi di atas, maka dapatlah disimpulkan, bahwa peran orang tua dalam menghadapi perkembangan beragama anak sangat diperlukan. Karena orang tua adalah orang yang terdekat dengan anak-anaknya. Pola pengalaman beragama pada masa anak-anak, ialah meniru dari orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya. Jika kedua orang tuanya berperilaku baik, sopan dan santun serta berkata-kata dengan lemah lembut dan bijaksana, maka anak-anak-pun akan mengikutinya. Akan tetapi sebaliknya, apabila kedua orang tua dan orang-orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak tidak mencontohkan akhlak yang baik, berbicara kasar dan kotor, maka tidak menutup kemungkinan akan diikuti pula oleh anak-anaknya

Selasa, 29 Juni 2010

RAHASIA PERTOLONGAN ALLAH UNTUK KEBERKAHAN REZEKI

AGUS HERMAWAN, S.Ag

Rezeki yang berkah, luas dan cukup merupakan hal yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Berbagai cara dilakukan untuk mencapainya. Bahkan ada yang menggunakan cara-cara yang diharamkan oleh Allah swt. Ada diantara manusia yang keliru meminta pertolongan. Ada yang meminta pertolongan kepada Jin, meminta jimat dan pengasihan ke dukun-dukun, serta meminta wejangan-wejangan kepada para paranormal. Padahal perlu kita yakini bahwasanya yang member i rezeki kepada kita adalah Allah swt., bukan manusia, pasar, yayasan ataupun perusahaan. Semuanya itu dapat ditamsilkan sebagai kran-kran tezeki Allah swt. yang mengalir kepada diri kita.

Karenanya manakala kita hendak mendapatkan pertolongan Allah swt. hendaknya kita dekati sumber pemberi rezeki, yaitu Allah swt. dengan cara mengamalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mengetuk pintu mahabbah (kecintaan) Allah swr. Kepada kita. Karena jika Allah swt. telah mencintai seseorang, apapun doa yang dimohonnya akan dikabulkan, begitu pula dengan kebutuhan hidup dan rezekinya, niscaya akan dimudahkan dan diberkahi. Adapun diantara amalan-amalan sunnah yang menjadi kunci pertolongan Allah swt. untuk mendapatkan keberkahan rezeki ialah :

1. Mencintai masjid

Mencintai masjid merupakan kunci utama untuk mendapatkan pertolongan Allah swt. Karena masjid adalah rumah Allah swt. dan tempat yang paling Allah sukai di dunia ini. Orang yang mencintai masjid, akan selalu dicintai oleh Allah. Karenanya usahakan agar kita tidak melaksanakan shalat fardhu lima waktu kecuali di masjid. Berzikir dan mengkaji ilmu-ilmu agama di masjid, dan jangan lupa membawa infaq untuk masjid. Insyaallah petolongan Allah swt. akan selalu diberikan bagi mereka pecinta masjid.

2. Shalat Tahajud

Amalan sunnah yang sangat dicintai oleh Allah swt. ialah shalat tahajud. Karena ibadah sunnah ini merupakan warisan Nabi dan para sahabatnya. Pada sepertiga malam terakhir ini Allah swt memberi
kan rahmat-Nya kepada mereka yang bangun untuk sujud menegakkan qiyamullail. Banyak sekali keutamaan-keutamaan dari shalat tahajud, diantaranya Nabi SAW bersabda: “Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim ). Jadi mereka yang sepanjang malam tidur berarti telah menyia-nyiakan datangnya pertolongan Allah.


3. Menyambung silaturahim

Silaturahmi adalah kunci pembuka pintu rahmat dan pertolongan Allah swt. Silaturahim artinya menyambung hubungan persaudaraan dengan sesame muslim. Orang yang cinta dengan silaturahim akan selalu dicintai oleh orang lain, dan akan dicintai pula oleh Allah swt. Dalam hadits Rasulullah saw. bersabda : "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasulullah SAW kepada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyembungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar pahalanya.
Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR. Bukhari Muslim).

4. Cinta sedekah

Dalam sebuah tausiahnya, Ustadz Yusuf Mansur menyampaikan bahwa sedikitnya ada empat keutamaan bersedekah. Pertama, mengundang datangnya rezeki. “Allah berfir man dalam salah satu ayat Alquran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan, “Pancinglah rezeki dengan sedekah”. Kedua, sedekah dapat menolak bala. Rasulullah pernah bersabda, “Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.”
Ketiga, sedekah dapat menyembuhkan penyakit. Rasulullah menganjurkan, “Obatilah penyakitmu dengan sedekah.” Keempat, menunda kematian dan memperpanjang umur. Rasulullah mengatakan, “Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur”. Mengapa semua itu bisa terjadi? Hal tersebut bisa terjadi karena Allah mencintai orang-orang yang bersedekah.


5. Membantu orang lain

Amalan yang disukai oleh Allah swt. ialah membantu orang lain yang mendapatkan kesulitan. Karena siapa orang yang suka membantu orang lain akan dibantu oleh Allah swt. Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).


6. Membaca shalawat Nabi

Orang yang sangat dicintai oleh Allah swt. si dunia ini adalah nabi Muhammad saw. Karenanya orang yang cinta bershalawat kepada nabi Muhammad saw. akan dicintai pula oleh Allah swt. Dan manakala seseorang telah dicintai oleh Allah, maka pertolongan-Nyapun akan diberikan kepadanya. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman di dalam Al-Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. 33:56) Abul Aliyah berkata, “Shalawat Allah adalah pujian-Nya (terhadap Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam ) di sisi para malaikat, sedangkan shalawatnya malaikat berupa do’a.” Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri dan beberapa ahli ilmu, mereka mengatakan, “Shalawat dari Rabb adalah rahmat-Nya, dan shalawat malaikat adalah permohonan ampun.” Sementara itu, as-Sam’ani berkata, “Shalawat dari Allah bermakna rahmat dan ampunan, sedang shalawat dari malaikat serta orang mukmin makna-nya adalah do’a.”

Demilianlah 6 amalan sunnah yang merupakan kunci datangnya pertolongan Allah swt. untuk keberkahan rezeki dan harta. Semoga kita dapat mengamalkannya, dan semoga kita dijadikan orang-orang yang memiliki harta yang cukup, luas dan berkah. Amiin..

Selasa, 22 Juni 2010

KUNCI KETAATAN DAN KEMAKSIYATAN

Ada 3 kunci ketaatan manusia kepada Allah swt., yaitu :
1. Munculkan sifat khauf (takut) akan azab Allah swt.
Jika seseorang sudah memiliki rasa takut kepada azab (neraka) Allah, maka ia akan menjauhi segala larangan Allah dan perbuatan dosa/maksiyat. Serta akan menjaga dirinya untuk selalu istiqomah dalam ketaatan.

2. Munculkan sifat raja’ (mengharap) rahmat Allah swt.
Seseorang akan mentaati Allah swt. Jika ia selalu mengharapkan rahmat Allah swt. Karena ia meyakini bahwa hanya dengan rahmat Allah swt., seseorang akan dapat menjalani kehidupan di dunia dengan selamat, sukses dan bahagia (insyaallah).

3. Munculkan sifat mahabbah (cinta) kepada Allah swt.
Rasa cinta kepada Allah swt. yang mendalam akan menumbuhkan ketaatan beribadah kepada-Nya. Bahkan dengan rasa cinta itu seseorang akan rela mengorbankan apapun yang dimilikinya untuk dipersembahkan kepada Rab-Nya.

Ada 3 kunci kemaksiyatan manusia kepada Allah swt., yaitu :
1. Sifat takabbur (sombong)
Sifat sombong dapat menyebabkan timbulnya perbuatan dosa/maksiyat pada diri seseorang. Karena kesombongan Iblis kepada nabi Adam, menyebabkan ia terusir dari syurga. Begitu pula Fir’aun yang sombong, bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan, ditenggelamkan Allah swt di laut merah. Juga Qorun yang sombong karena hartanya yang berlimpah akhirnya ditelan oleh bumi dan dilaknat oleh Allah swt.

2. Sifat al hirshu (tamak/serakah)
Seseorang yang memiliki sifat serakah alias tamak, akan mudah terjerumus kepada perbuatan dosa. Karena rakus dengan harta, manusia kerap mengambil harta atau sesuatu yang bukan haknya. Dengan kerakusan ini manusia akan saling berebutan jabatan, kedudukan dan kekayaan tanpa mempedulikan lagi halal maupun haram. Sejarah nabi Adam as. dan Hawa menjadi contoh sifat ketamakan manusia, ketika syurga beserta isinya sudah diberikan oleh Allah swt untuk dinikmati oleh
keduanya, namun mereka masih mendekati bahkan memakan buah khuldi yang terlarang.


3. Sifat al hiqdu (iri hati/dengki)
Bila seseorang telah terasuki sifat dengki atau iri hati, maka ia tidak akan pernah mensyukuri nikmat yang telah Allah swt. berikan. Dia akan selalu merasa kekurangan, sebaliknya ia selalu merasa iri dengan kelebihan atau harta yang dimiliki oleh orang lain. Dan celakanya iapun akan mencari cara agar orang lain (yang didengki) menjadi bangkrut dan pailit, kemudian kenikmatan dan kekayaan itu
pindah kepada dirinya. Dalam hadits nabi disebutkan bahwasanya orang yang memiliki sifat dengki, maka seluruh amal kebaikannya akan hapus (hilang) seperti kayu yang terbakar api.

Minggu, 20 Juni 2010

NASEHAT LUQMAN KEPADA ANAKNYA

Diambil dari Quran surah Luqman ayat 13-19
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Adapun pendidikan yang harus diberikan oleh orangtua sebagai wujud tanggung jawab terhadap keluarga adalah:
1. Pendidikan Agama dan Spiritual
Pendidikan agama dan spiritual adalah pondasi utama bagi pendidikan keluarga. Pendidikan agama ini meliputi pendidikan aqidah, mengenalkan hukum halal-haram memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca Al-Qur’an.
2. Pendidikan Akhlaq dan Moral
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diantara kewajiban bapak kepada anaknya ialah memperbagus budi pekertinya dan membaguskan namanya.” (HR.Baihaqi). Para ahli pendidikan Islam menyatakan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, sebab tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak.
3. Pendidikan Jasmani
Islam memberi petunjuk kepada kita tentang pendidikan jasmani agar anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan bersemangat. Allah Ta’ala berfirman: “Makanlah dan minumlah kamu tetapi jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang yang berlebih-lebihan.” (QS.Al-A’raf:31). Ayat ini sesuai dengan hasil penelitian para ahli kesehatan bahwa agar tubuh sehat dan kuat, dianjurkan untuk tidak makan dan minum secara berlebih-lebihan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah. Sebaik-baik pengisi waktu bagi wanita beriman adalah memintal. Apabila kedua orang tuamu memanggilmu maka penuhilah panggilan ibumu.” (HR Ad-Dailami)
4. Pendidikan Akal
Yang dimaksud dengan pendidikan akal adalah meningkatkan kemampuan intelektual anak, ilmu alam, teknologi dan sains modern sehingga anak mampu menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Allah dengan proses penciptaan nabi Adam AS dimana sebelum ia diturunkan ke bumi, Allah mengajarkan nama-nama (asma) yang tidak diajarkan kepada para malaikat. (QS. Al-Baqarah : 31)
5. Pendidikan Sosial
Yang dimaksud dengan pendidikan sosial adalah pendidikan anak sejak dini agar bergaul di tengah-tengah masyarakat dengan menerapkan prinsip-prinsip syari’at Islam. Di antara prinsip syari’at Islam yang sangat erat berkaiatan dengan pendidikan sosial ini adalah prinsip ukhuwwah Islamiyah. Untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah ini Islam telah menggariskan syari’at Al-Jama’ah (QS.Ali Imran : 103). Oleh karena itu setiap orang tua harus mengajarkan kehidupan berjama’ah kepada anak-anaknya sejak dini.
Di dalam buku "Pendidikan Anak Dalam Islam" karangan Abdullah Nashih Ulwan disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang 7 (tujuh) segi dalam mendidik anak, yaitu :
1. Segi Keimanan
- menanamkan prinsip ketauhidan, mengokohkan fondasiiman ; - mencari teman yang baik
- memperhatikan kegiatan anak.

2. Segi Moral
- kejujuran, tidak munafik ; - menjaga lisan dan berakhlak mulia

3. Segi Mental dan Intelektual
- mempelajari fardhu 'ain dan fardhu kifayah ; - mempelajari sejarah Islam ;
- menyenangi bacaan bermutu yang dapat meningkatkan kualitas diri ;
- menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal

4. Segi Jasmani
- diberi nafkah wajib, kebutuhan dasar anak seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pakaian dan pendidikan ; - latihan jasmani, berolahraga, menunggang kuda, berenang, memanah, dll ;
- menghindarkan dari kebiasaan yang merusak jasmani

5. Segi Psikologis
- gejala malu, takut, minder, manja, egois dan pemarah

6. Segi Sosial
- menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan ;
- etika sosial anak

7. Segi Spiritual
- Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan ;
- memperhatikan khusu', taqwa dan ibadah

MERAIH CINTA ALLAH

"Ya Allah, aku sungguh memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat menghantarkan aku pada cinta-Mu." (HR Tirmidzi)
Saudaraku, seharusnya tidak ada yang harus kita impikan dalam hidup selain meraih cinta dan kasih sayang Allah. Tampaknya, terlalu rendah bila kita sekadar memimpikan kekayaan, jabatan, popularitas, dan aksesoris duniawi lainnya. Tidak berarti semua itu tanpa mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah. Dunia hanya sementara, dan kalau tidak hati-hati malah bisa menjerumuskan.
Hakikatnya, semua yang ada mutlak milik Allah. Maka, alangkah bahagianya bila kita dicintai oleh Dzat yang pemilik semua itu. Tidak ada lagi yang harus kita takutkan seandainya Allah sudah mencintai kita. Namun, betapa nestapanya hidup bila kita jauh dari Allah, atau na'udzubillah bila sampai dibenci Allah. Inilah kerugian yang tiada bandingannya.
Ada sebuah hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril, lalu berfirman: 'Aku sungguh mencintai si Fulan, cintailah ia!'. Maka ia pun dicintai penghuni langit. Kemudian ia diterima di bumi. Sebaliknya jika Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril, lalu berfirman: 'Aku sungguh membenci si Fulan, bencilah ia!'. Maka, Jibril pun membencinya dan berseru kepada penduduk langit, 'Sungguh, Allah membenci si Fulan, maka bencilah ia'. Lalu ia pun dibenci penghuni langit. Kemudian ia mendapatkan kebencian di bumi" (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).
Pertanyaannya, bagaimana cara kita meraih cinta Allah? Jawabannya sederhana, paksakan untuk selalu melaksanakan amalan-amalan yang disenangi Allah dan rasul-Nya. Allah mencintai kedermawanan, maka jadilah kita hamba yang dermawan; tiada hari tanpa bersedekah. Allah mencintai shalat tepat waktu dan berjamaah, maka jadilah kita hamba yang selalu bersegera menyambut seruan adzan. Dan banyak lagi.
Tidak mudah memang melaksanakan semua amalan tersebut. Perlu ilmu, proses, dan kesungguhan. Namun, itulah kewajiban sekaligus tantangan bagi seorang Muslim.
Ada enam langkah yang dapat kita praktikkan. Pertama, miliki tekad yang kuat untuk menjadi hamba yang dicintai Allah. Tanpa adanya tekad dan kemauan yang kuat mustahil kita bisa meraih keutamaan tersebut. Kedua, buat target. Susunlah amal-amal yang dicintai Allah, lalu targetkan amal mana saja yang dapat kita lakukan (sesuai kemampuan diri). Usahakan target ini dibuat tertulis dan terukur.
Ketiga, siapkan sarana pendukung. Misalnya, menyediakan buku-buku berkualitas dan membangkitkan, memasang kata-kata motivasi di kamar, bergaul dengan ulama, dan lainnya. Keempat, lawan dan kalahkan rasa malas saat hendak beramal. Malas adalah kendaraan syetan. Tiada sedikit pun keberuntungan dengan memperturutkan kemalasan. Kelima, sempurnakan setiap kali beramal. Jangan setengah-setengah.
Dan keenam, mohonlah kepada Allah agar digolongkan menjadi hamba yang dicintai-Nya. Ada sebuah doa yang dicontohkan Rasulullah SAW, Ya Allah, aku sungguh memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat menghantarkan aku pada cinta-Mu". Wallahu a'lam.
( Abdullah Gymnastiar )

BERSHALAWAT KEPADA NABI

Agus Hermawan,S.Ag

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk
Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
(Q.S. Al Ahzab : 56)

Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul secara sempurna, kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama) nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah swt. dan selalu mengutama- kan akhirat dari pada dunia dan perhiasannya. Cinta Rasul inilah dengan izin Allah swt. menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah swt. menyelamatkan kita dari neraka, serta dengan mengi- kuti beliau kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.

Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya hari kiamat, yakni hari yang setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya, karena sibuk dengan urusannya sendiri. Cinta Nabi tidaklah berupa kecenderungan sentimental dan romantisme pada saat-saat khusus, misalnya dengan peringatan-peringatan tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal sha- lih, dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.

Ada sebuah kisah tentang seorang yang begitu cinta kepada Rasulullah saw. yang diambil dari kitab “Mukasyafatul Qulub”, karya Imam Al Gha zali, yaitu: seorang lelaki lupa tidak membaca shalawat kepada Nabi muhammad saw., saat malamnya ia bermimpi melihat Nabi Muhammad saw. tidak menoleh kepadanya, ia lalu bertanya: “Wahai Rosul, apakah engkau marah padaku ?” “Tidak,” Jawab beliau. “Lalu kenapa engkau tidak memandang- ku ?” Karena aku tidak mengenalmu,” Jawab beliau. Lelaki itu berkata, bagaimana engkau tidak mengenal aku, padahal aku adalah umatmu ! lelaki itu bangun dari tidurnya, kemudian setiap harinya ia membaca shalawat 100 kali, dan suatu hari ia bermimpi melihat Rosulullah saw. beliau bersabda, sekarang aku mengenalmu, dan aku akan memberi syafaat buatmu.

Berdasarkan kisah diatas dapat kita ambil pelajaran, bahwa orang-orang yang cinta kepada Rasulullah saw. akan gemar dan senang menyebut namanya. Nama Rasulullah saw. senantiasa ada dan menghiasi dirinya dalam setiap membaca shalawat. Akan tetapi banyak orang yang membaca shalawat kepada Nabi saw. belum tumbuh rasa cinta yang sebenarnya kepada beliau, hanya ucapannya yang ada tetapi hatinya belum terpaut cintanya kepada beliau.

Arti Shalawat

Shalawat ialah bentuk jamak dari kata salla atau salat yang berarti: doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Arti bershalawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika shalawat itu datangnya dari Allah swt. berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari malaikat berarti memberikan ampunan. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin berarti suatu doa agar Allah swt. memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muham- mad saw. dan keluarganya. Shalawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah swt., serta meng- harapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad saw., bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik shalawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).
Cara memperoleh kekhusyuan dalam bershalawat
Ada banyak cara untuk memperoleh kekhusyuan dalam membaca shalawat kepada Rasulullah saw, 3 diantaranya yaitu:
1. Niat
Niat adalah dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Segala
perbuatan yang kita lakukan harus diniatkan semata-mata untuk mengharap
keridhoan dari Allah swt., bukan mengharapkan pujian atau sanjungan dari
manusia. Begitu pula ketika kita bershalawat kepada Rasulullah saw., niat-
kanlah dengan hati yang tulus dan ikhlas, karena hanya dengan keikhlasan
dan ketulusan hati, shalawat yang kita baca insyaallah akan berpengaruh po- sitif dalam diri kita, dan akan menambah rasa cinta kepada Rasulullah saw.,
serta timbul keinginan untuk meneladani akhlak beliau dalam kehidupan se-
hari-hari.

2. Memilih bacaan shalawat
Dalam bershalawat kepada Rasulullah saw. hendaknya kita memperhatikan bacaan-bacaannya. Pilihlah bacaan shalawat yang sesuai dengan sunnah dan petunjuk Rasul, hindari membaca shalawat yang tidak sesuai dengan sunnah, dan bertentangan dengan kaidah tauhid/keimanan.
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Sebagaimana dalam hadits disebutkan:
“Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan memba- lasnya dengan shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R.Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-bani dalam Shahihul Jami’).
Demikianlah kedudukan shalawat Nabi saw. dalam agama Islam, sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Mu- hammad saw. Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi saw. dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyalahi petunjuknya. Nabi saw. lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau saw. Adapun bentuk shalawat atas Nabi adalah sebagaimana yang beliau ajarkan. Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk shalawat tersebut, beliau menjawab: Ucapkanlah:
Artinya: “Ya Allah, limpahkan shalawat atas Muhammad dan keluarga
Muhammad.” (H.R. Al-Bukhari No. 6118, Muslim No. 858)

3. Penuh konsentrasi

Dalam membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. hendaknya kita menghadirkan hati dan membacanya dengan penuh konsentrasi. Konsentrasi berarti pemusatan perhatian atau pikiran pada suatu hal. Begitu pula ketika kita membaca shalawat, perhatian dan pikiran kita terpusat kepada Rasulullah saw., tidak kepada hal yang lain. Dan agar kita bisa konsentrasi dalam membaca shalawat hendaknya kita memilih tempat dan waktu yang tepat, misalnya di masjid/mushola, setelah/ba’da shalat fardhu, atau ketika shalat tahajud di malam hari.

Cerminan orang-orang yang khusyu dalam membaca shalawatnya kepada Rasulullah Muhammad saw. adalah akan senang dan rindu membaca shalawat kepada nabi Muhammad saw., dan kecintaan terhadap Rasulullah semakin menggelora, kepribadiannya semakin baik, sikapnya semakin bijaksana, arif dan adil, serta tawadhu. Oleh sebab itu, wahai kaum muslimin mari kita tingkatkan kecintaan kita kepada Rasulullah saw. dengan bershalawat kepadanya. Mudah-mudahan Allah swt. senantiasa menunjukkan jalan kebaikan kepada kita.

KECINTAAN MANUSIA

Agus Hermawan, S.Ag

Salah satu nikmat yang Allah swt. berikan kepada manusia adalah adanya perasaan cinta (mahabbah) di dalam hatinya. Cinta merupakan suatu rasa yang diharapkan kehadirannya dalam kehidupan seseorang. Cinta akan mampu merubah sifat dan sikap seseorang dalam waktu yang sangat singkat , cinta juga mampu membuat seseorang melupakan rasa, bahkan karena ada rasa cinta, orang bisa berkorban dan melakukan apa saja demi sesuatu (seseorang) yang dicintainya. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar kita dapat menempatkan cinta secara proporsional dan benar. Kita harus membagi cinta untuk Allah dan Rasul-Nya, cinta untuk keluarga, dan cinta untuk bekerja dan berusaha mencari harta yang halal. Dalam Alquran Allah swt. menyebutkan beberapa hal yang menjadi kecintaan manusia sebagai berikut:


Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-
apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang
banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang
ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di
sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).
(Q.S. Ali Imran : 14)

Macam-macam kecintaan manusia

Berdasarkan ayat ke 14 surat Ali Imran di atas, dapat kita ketahui beberapa jenis kecintaan manusia, yaitu:

1. Cinta terhadap wanita

Wanita ialah makhluk yang Allah swt. ciptakan dengan memiliki berbagai keindahan. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya memiliki nuansa syahwat yang dapat memunculkan hasrat kaum lelaki. Islam memandang, cinta terhadap wanita sebagai fitrah bagi manusia (laki-laki) yang harus terpenuhi kebutuhan syahwatnya. Namun Islam telah memberi kan aturan yang jelas, bahwa untuk menyalurkan hasrat terhadap wanita harus melalui proses yang halal yaitu nikah. Bukan dengan jalan “pacaran” apa lagi sampai melakukan perzinahan. Dengan menikah , akan terciptalah ketenangan dan ketentraman dalam hati, terjagalah mata dari melihat wanita yang bukan muhrimnya (ghoddul bashar), akan terbentuklah sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah, sehingga kekhusyuan beribadah kepada Allah swt.pun akan bertambah.

2. Cinta terhadap anak-anak

Anak adalah nikmat dan amanat yang besar yang diberikan Allah swt. kepada kita. Setiap orang yang sudah menikah pasti mendambakan kehadiran sang anak dalam kehidupannya. Anak ialah harta yang paling berharga, yang tidak dapat ditukar dengan uang sebanyak apapun. Anak ialah permata hati yang dapat memberikan kesejukan dan kedamaian, pengobat hati dikala duka, pemberi semangat dikala putus asa hampir menerpa. Sehingga orang yang sangat sayang dan cinta dengan anaknya, akan melakukan apa saja, agar segala kebutuhan anak-anaknya dapat terpenuhi dengan baik dan layak. Perlu kita ingat, bahwa dalam Alquran Allah swt. mengklasifikasikan anak-anak kita kedalam empat golongan, pertama ada anak yang menjadi musuh bagi kedua orang tuanya (Q.S.At Tagaabun: 14), kedua anak yang menjadi fitnah /ujian (Q.S.At Tagaabun: 15), ketiga anak yang menjadi perhiasan kehidupan dunia (Q.S.Al Kahfi: 46), dan keempat anak yang menjadi penyejuk hati/qorrotu a'yun (Q.S.Al Furqon: 74). Tipe anak yang keempat inilah yang menjadi dambaan semua orang tua, yaitu anak yang saleh yang mendoakan kedua orangtuanya.

3. Cinta terhadap harta benda

Harta benda ialah sesuatu yang sangat dicintai oleh manusia. Dalam surat Ali Imran ayat 14 di atas, Allah swt. menyebutkan beberapa harta benda yang dicintai oleh manusia, yaitu: emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, sawah dan ladang. Sungguh menjadi suatu kebanggaan /prestise dalam hidup kalau seseorang itu memiliki harta yang banyak, mobil yang mewah, rumah yang megah, dan uang yang bertumpuk-tumpuk. Orang yang gila harta akan memakai segala cara untuk mendapatkannya, bahkan hal-hal yang haram-pun akan ditempuhnya asalkan harta tersebut dapat dimilikinya.
Islam memandang kita boleh saja mencari harta benda, namun harus dengan cara yang halal dan diridhoi oleh Allah swt. Harta ialah sarana ( jalan) kita untuk beribadah kepada Allah swt. Dengan harta tersebut kita dapat berzakat, berinfak dan bersedekah kepada mereka yang membutuhkan. Membantu yatim piatu, para dhuafa, fakir dan miskin. Sebaliknya harta yang didapat dari jalan yang haram, dan orang-orang yang tidak mau mengeluar- kan zakatnya, maka di hari kiamat nanti harta tersebut (emas dan perak) akan dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi,lambung dan punggung mereka sebagai azab dari Allah swt. (Q.S. Attaubah : 35).

Dalam ajaran Islam, mencintai sesuatu, entah wanita, anak-anak, harta, tahta atau apa saja yang bersifat duniawi, tidaklah dilarang, selama kecintaannya terhadap sesuatu tersebut tidak melebihi cintanya kepada Allah swt. dan Rasul-Nya. Idealnya, kecintaan terbesar seorang muslim adalah cinta kepada Allah swt. Cinta pada selain Allah swt. bisa membuat manusia buta dan tuli . Buta berarti kecintaan akan membuat manusia tidak dapat melihat manfaat dan mudharatnya. Saat seseorang terlalu mencintai sesuatu, ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dan tatkala ia telah memilikinya ia tidak mau melepaskannya, ia telah buta terhadap ajaran Allah swt. Tuli berarti tidak mau mendengarkan nasihat dan kebenaran. Cintanya kepada sesuatu membuat ia tidak mau dinasihati.

Imam Ibnul Qoyyim berkata”Barangsiapa yang menyerupakan cintanya kepada Allah swt. dengan cinta manusia kepada manusia seperti jalinan hubungan kemesraan, atau sifat-sifat yang tidak layak lainnya, maka ia adalah orang yang salah dan keji, dia layak dijauhi dan dibenci”.

Maka dari itu cintailah sesuatu itu karena Allah swt. Artinya dasarilah rasa cinta kepada sesuatu itu dengan iman, karena cinta seperti ini adalah cinta yang masyru’ (disyariatkan). Cinta seperti ini akan melahirkan keseimbangan dalam hidup, dan orang itu tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Begitulah cinta yang didasari oleh iman akan membawa kemanfaatan bagi dirinya di dunia dan keselamatan di akhirat.

Jangan mencintai sesuatu dengan didaasari oleh hawa nafsu, karena cinta seperti ini adalah cinta ghoir masyru’ (tidak disyariatkan). Karena cinta seperti ini akan melahirkan sikap tidak pernah puas dan cukup. Orang seperti ini hanya akan mendapatkan kenikmatan sesaat dan kesengsaraan yang kekal.
Dan sebagai bahan perenungan, mari kita perhatikan firman Allah swt. dalam surat Attaubah : 24, yang artinya: Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. Wallaahu a’lam bish showab..