Rabu, 01 Februari 2012

EMPAT KEDUDUKAN ANAK DALAM AL-QURAN

Oleh: Agus Hermawan, S.Ag

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah serta memiliki intelegensi yang tinggi. Anak dapat membuat senang hati kedua orang tuanya, manakala anak tersebut berbakti kepada mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya. Namun anak juga dapat membuat susah kedua orang tuanya manakala anak tersebut tidak berbakti kepadanya, serta tidak taat beribadah, apalagi kalau sampai terlibat atau tersangkut dalam masalah kriminalitas atau kenakalan remaja yang lain. Dalam al-Quran, Allah swt. mengklasifikasikan kedudukan anak menjadi empat golongan, yaitu:
Pertama, ada anak sebagai musuh, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Tagobun ayat 14 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.
Kedua, anak sebagai fitnah atau ujian, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Tagobun ayat 15, yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anamu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.” Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negative. Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya.
Ketiga, anak sebagai perhiasan, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46, yang artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.
Keempat, anak sebagai penyejuk mata (qorrota a’yun) atau penyenang hati, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqon ayat 74, yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya. Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita. Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Dari ke-empat kedudukan anak tersbut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun. Namun untuk mencapainya diperlukan keserisuan dan ketekunan orang tua dalam membina mereka. Orang tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya. Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya. Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita ajak untuk shalat berjama’ah. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya. Kemudian, orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang baik dan berkualitas, juga mempraktikkan amalan-amalan sunnah di sekolah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua hendaknya memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat. Karena teman juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak mereka.
Semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita kepada kelompok qurrota a’yun, sehingga mereka menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat.

Melihat Surga Di Depan Mata

Disusun Oleh : Agus Hermawan

I. Surga
Surga adalah suatu pembalasan yang agung dan pahala tertinggi bagi para hamba Allah yang taat. Surga merupakan suatu kenikmatan sempurna. Tak ada sedikit pun kekurangannya. Tak ada kemuraman di dalamnya. Penggambaran surga yang difirmankan oleh Allah swt. dan disabdakan oleh Nabi saw., memang hampir tak mampu kita gambarkan dengan otak dan imajinasi kita yang terbatas ini. Betapa sulit membayangkan kenikmatan yang demikian besar. Sungguh kemampuan imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasannya.
Kita coba untuk memvisualisasikan dalam angan hadits Qudsi yang menceritakan tentang gambaran surga berikut ini, “Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”
“Seorang pun tak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. As-sajdah : 17)
Allah swt. menentukan hari masuknya ke surga pada waktu tertentu dan memutuskan jatah hidup di dunia pada batas waktu tertentu serta menyiapkan di dalam surga berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati. Dia memperlihatkan dengan jelas surga kepada mereka agar dapat melihatnya dengan mata hatinya karena penglihatan mata hati lebih tajam daripada pandangan mata kepala.
“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang. Jika ia penghuni surga, maka ia adalah penghuni surga. Jika ia penghuni neraka, maka ia adalah penghuni neraka. Kemudian dikatakan, Inilah kursimu hingga Allah Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat nanti.” (HR.Bukhari-Muslim)
Sungguh Nabi Muhammad saw. telah melihat di dekatnya terdapat surga tempat tinggal sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Anas dalam kisah Isra’ dan Mi’raj. Pada akhir hadits tersebut dijelaskan,
“Jibril berjalan terus hingga tiba di Sidratul Muntaha dan ternyata Sidratul Muntaha ditutup dengan warna yang tidak aku ketahui.” kata Rasulullah saw. lebih lanjut, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya terdapat kubah dari mutiara dan tanahnya beraroma kesturi. (HR.Bukhari-Muslim)
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar /39 :73)
Untuk memeri nama surga itu, Al Quran memberikan banyak gelaran seperti Jannatul Ma’wa (Surga tempat kembali), Jannatu ‘Adn (Surga sebagai tempat tinggal yang kekal), Darul Khulud (Perumahan yang kekal), Firdaus (Paradiso), Darus Salam (Perumahan kesejahteraan), Darul Maqamah (Perumahan ketenangan), Jannatun Na’im (Taman-taman kenikmatan), Maqam Amin (Kedudukan sentausa) dan lain-lain lagi.


II. Penghuni-penghuni surga
Surga itu tidak akan dimasuki melainkan oleh orang yang benar-benar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mulia serta bersifat dengan berbagai keutamaan dan keluhuran. Allah swt. berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111-112 :
“Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan mengaruniakan surga untuk mereka itu. Mereka berperang untuk membela agama Alah, sebab itu merekapun membunuh dan terbunuh, menuruti janji Allah yang tersebut dalam kitab Taurat, Injil dan Quran. Siapakah yang lebih menepati janjinya dari pada Allah? Oleh sebab itu, maka bergembiralah dengan perjanjian yang telah kamu semua perbuat. Yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar sekali. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah, orang-orang yang menyembah-Nya, orang-orang yang memuji-Nya, orang-orang yang berpuasa, orang-orang yang ruku, orang-orang yang sujud, orang-orang yang menyuruh mengerjakan kebajikan, orang-orang yang melarang mengerjakan keburukan dan orang-orang yang menjaga batas-batas hukum Allah, maka sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman itu”.
“”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela, tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Mu’Minun : 1-11)

III. Kenikmatan-Kenikmatan Surga
A. Sungai yang bermacam-macam
“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah sebagai suatu taman yang didalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang rasanya tetap tidak berganti-ganti, sungai-sungai dari anggur yang amat sedap rasanya bagi orang-orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang bening jernih. Disana mereka memperoleh segala macam buah-buahan serta pengampunan dari Tuhannya” ( QS. Muhammad : 15)
B. Rezeki berupa buah-buahan
“Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman serta mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, sesungguhnya mereka itu akan memperoleh taman-taman surga yang mengalirlah beberapa sungai di dalamnya. Setiap mereka mendapatkan pemberian rezeki dari surga dari semacam buah-buahan, mereka lalu berkata: “Ini adalah seperti rezeki yang kita terima sebelum sekarang”. Kepada mereka diberikanlah pemberian-pemberian yang serupa. Didalam surga itupun mereka akan memperoleh jodoh (pasangan) yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. ( QS. Al Baqarah : 25)
“Para ahli surga menerima buah-buahan, yang mana saja mereka bebas memilihnya, dan pula daging burung, mana saja yang mereka inginkan”. (QS AlWaqi’ah : 20-21)
C. Pakaian, Dipan dan Perlengkapan Makan dan Minum
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik (buah)nya. Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana Kristal, Kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukurannya yang sesuai (dengan kehendak mereka). Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air (di suga) yang dinamakan Salsabil”. (QS.Al Insan : 12-18)
“Kepada mereka itu diedarkanlah piring-piring dan gelas-gelas dari emas. Didalamnya terdapat semua apa yang diingini oleh hati dan yang sedap dipandang mata. Kamu semua akan kekal di situ selama-lamanya”. (QS. Az Zukhruf: 71)
D. Pelayan-pelayan di surga
“Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda-pemuda (pelayan) yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka berpakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci)”. ( QS. Al Insan : 19-21)
E. Bangunan Bertingkat-tingkat
“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka mendapat kamar-kamar (di surga), di atasnya terdapat pula kamar-kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Allah tidak akan memungkiri janji(nya). (QS. Az Zumar : 20)
F. Gadis-gadis (bidadari)
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan”. (QS. Yasin : 55-56)
“Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya”. (QS. Al Waqi’ah : 35-37)
“Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah, dan membatasi pandangannya, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik”. (QS. As-Saffat : 48-49)
G. Tidak bersifat dengki dan tidak merasa lelah
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berdiam di dalam taman-taman surga dan di tengah-tengahnya ada suatu air yang memancar. Kepada mereka dikatakan : “Masuklah kamu semua kedalamnya dengan aman sentosa”. Kami (Allah) telah membuangkan segala sifat kedengkian yang ada di dalam hati mereka, sehingga mereka itu merupakan saudara-saudara belaka, berhadap-hadapan di atas tempat duduk, Mereka tidak pernah tersentuh oleh rasa lelah dan mereka tidak akan dikeluarkan dari tempat itu”. (QS. Al Hijr : 45-48)
H. Tidak mendengarkan perkataan omong kosong
“Di dalam surga itu mereka tidak mendengarkan perkataan omong kosong dan tidak pula kata-kata yang menyebabkan dosa. Yang terdengar di situ hanyalah ucapan: “Salam (damai), salam (damai)”. (QS. Al Waqi’ah :25-26)
I. Surga memiliki delapan pintu
“Di surga terdapat delapan pintu. Ada pintu yang namanya Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Barang Siapa yang berinfak dengan sepasang unta atau kuda atau lainnya di jalan Allah swt., maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik. Barang Siapa yang rajin shalat, maka ia dipanggil di pintu shalat. Barang Siapa berjihad, maka ia dipanggil di pintu jihad. Barang Siapa rajin bershadaqah, maka ia masuk dari pintu shadaqah. Dan barang siapa puasa, maka ia dipanggil dari Ar-rayyan.”Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang dipanggil dari semua pintu tersebut? Rasulullah saw. menjawab,”Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka.”
“Siapa di antara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahulaa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluhu, maka dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan ia masuk dari mana saja yang ia sukai.” (HR. Imam Muslim)
“Jika seorang muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan ia bebas masuk dari pintu mana saja yang ia sukai.” (HR. Imam Muslim)
J. Tidak buang kotoran dan tidak meludah
“Mereka berbaris dalam satu regu, wajah mereka memancarkan kepuasan seperti rembulan saat pertama. Tubuh mereka bersih dari kotoran. Tidak meludah, tidak berdahak dan tidak pula buang air. Tempat-tempat singgahnya terbuat dari emas, sisirnya terbuat juga dari emas dan perak. Tempat apinya adalah kayud, keringatnya berupa minyak misyk, setiap lelaki memiliki pasangan istri yang kulitnya cemerlang seolah-olah sumsumnya tampak dari balik daging. Mereka tidak pernah berselisih, tidak saling membenci sebab mereka sehati. Bacaannya tiap kali adalah tasbih, setiap pagi maupun sore.” (HR. Imam Bukhari)
IV. Profil (penampilan) penghuni surga
“Penghuni surga masuk ke dalam surga dengan rambut pendek, belum berjenggot, matanya bercelak dan usianya tiga puluh tiga tahun.” (Imam Tirmidzi)
“Jika penghuni surga meninggal dunia, baik pada saat kecil atau tua, maka mereka dikembalikan dengan usia tiga puluh tahun di surga dan usianya tidak bertambah selama-lamanya. Begitu juga penghuni neraka.” (Imam Tirmidzi)
“Penghuni surga masuk surga dengan ketinggian Adam, enam puluh hasta dengan ukuran orang besar, dengan wajah tampan setampan Nabi Yusuf, Seusia Nabi Isa, tiga puluh tiga tahun, lidahnya fasih sefasih Nabi Muhammad, belum berjenggot dan berambut pendek.” (Ibnu Abu Dunya)
V. Kenikmatan surga yang tertinggi
“Wajah-wajah para ahli surga pada hari itu berseri-seri, karena dapat melihat kepada Tuhannya”. (QS. Al Qiyamah : 22-23)
“Dan penghuni surga yang paling tinggi atau mulia di sisi Allah adalah orang yang melihat wajah Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat, “Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada saat itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (HR. Tirmidzi)
Demikian uraian singkat tentang “Menatap Surga Di Depan Mata”. Mudah-mudahan kita semua diizinkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang-orang yang senantiasa istiqamah di dalam meniti hidup dan kehidupan ini, sehingga ketika ruh ini dicabut oleh-Nya kita menerima anugerah husnul khatimah. Sehingga kita termasuk dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dipanggil dengan penuh kelembutan: “Yaa ayyatuhan-nafsul muthma innah, irji-i ila Rabbiki raadhiatan mardhiyyah, fadkhulii fi ‘ibaadii wadkhulii jannatii.”
Wallaahu a’lam bish shawab
Daftar Pustaka :
1. Sayid Sabiq, Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman, CV Diponegoro, Bandung, 1996
2. http//www. Al-hikmah.ac.id
3. Al Quran Dan Terjemahnya , Departemen Agama RI, CV Pustaka Agung Harapan, 2006

Selasa, 31 Januari 2012

MUKJIZAT ILMIAH ALQURAN DALAM ILMU GEOLOGI

Dikutip dari karya Harun Nasution
Ilmu lapisan bumi

“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu adalah sesuatu yang padu kamudian Kami pisahkan antara keduanya. Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapa mereka tiada beriman?” (QS. Al Anbiya : 30)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya?’ (Yang bersifat demikian) itulah Tuhan semesta alam. Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. Penjelasan itu sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit sedangkan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ’Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ’Kami datang dengan suka hati….’ ” (QS. Fushshilat : 9-11)
Para ilmuwan telah menemukan bahwa bumi, matahari dan planet-planet, serta benda-benda langit lainnya semula adalah berupa nebula (sekumpulan bintang di langi yang tampak seperti massa debu dan gas berpijar dan bercahaya di luar angkasa), kemudian bumi terpisah dari kumpulan ini.
Terjadinya bumi
”Bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh.” (QS. An Nazi’at : 30-32)
Bentuk bumi
”Bumi sesudah itu dihamparkanNya.” (QS. An Nazi’at : 30)
”Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” (QS. Ar Rahman : 17)
”Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam.” (QS. Az Zumar : 5)
”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin :40)
Gunung yang bergerak
”Kamu lihat gunung-gunung itu, lalu kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan….” (QS. An Naml : 88)
14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13).
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Pengerutan bagian tepi-tepi bumi
”Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami mendatangi daerah-daerah (orang kafir) lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya. Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya) tidak ada yang dapat menolak kehendakNya. Dialah Yang Mahacepat hisabNya.” (QS. Ar Ra’d : 41)
”Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Apakah mereka tidak melihat bahwa kami mendatangi negeri orang (kafir) lalu kami kurangi luasnya dari segala penjurunya, maka apakah mereka yang menang ?” (QS. Al Anbiya : 44)
Keseimbangan bumi
Ilmu modern menerangkan bahwa gunung terjadi dari dua lempeng raksasa yang saling bertumbukan. Bagian dari lempengan itu ada yang melipat ke bawah dan ke atas. Ahli geologi menyatakan, fungsi gunung adalah sebagai isotasi, yakni kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi
”Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung itu sebagai pasak ?” (QS. An Naba : 6-7)
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS. Al Anbiya : 31)
”Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu.” (QS. An Nahl : 15)
Perbedaan tanah di bumi
”Di bumi itu terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’d : 4)
Perembesan air
“Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi. Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al Mu’minun : 18)
Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus. Lalu, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan ?” (QS. As Sajdah : 27)
”Katakanlah, ’Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu ?” (QS. Al Mulk : 30)
”Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al Kahfi : 41)
Pancaran air dari bebatuan
”Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 74)

Senin, 30 Januari 2012

PSIKOLOGI DAKWAH

Disampaikan Oleh : KH.Nandi Naqsabandi Aziz, MA
Pada acara kuliah Mubalighin, LTM-NU, Ahad, 29 Januari 2012
Ditulis ulang oleh Agus Hermawan S.Ag

Sebelum berceramah, kita hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Lihat dulu kondisi jama’ahnya
2. Bicara sesuai dengan kadar pengetahuan jama’ahnya
3. Pandangan (pola pikir) harus luas, jangan picik
4. Menyampaikan ceramah dengan cara/retorika yang baik
5. Melengkapi diri dengan berbagai ilmu
6. Mendiskusikan terlebih dahulu materi yang akan disampaikan
7. Banyak menghafal ayat dan hadits
8. Berceramah berdasar dorongan hati dan otak
9. Materi yang diucapkan harus sesuatu yang (anda anggap) mendesak dan kuat
10. Harus ikhlas, tidak mengharapkan “salam tempel”
11. Jangan berceramah kalau : menahan ke wc, sakit, lapar, haus, lesu, letih, pikiran kacau
12. Pakaian harus rapi, wajah senyum, sebelum bicara sudah menarik
13. Atraktif, harus serba menarik, seperti: sikap, air muka menarik, pakaian, gerak-gerik.
14. Rasa cinta yang memancar kepada pendengar (audience)
15. Berbicara dari hati, maka akan sampai ke hati pula
16. Ketika membaca ayat boleh dilagukan
17. Pendahuluan bagaikan iklan (harus menarik), seperti: padat, gaya bahasa menarik, surprise, diluar dugaan, mengundang orang lain ingin tahu,
18. Perbaiki bahasa dengan membaca buku-buku sastrawan, karangan orang-orang besar, kamus bahasa Indonesia, jangan memakai istilah yang telah usang
19. Pengucapan bahasa harus fasih, baik dalam bahasa Inggris, Cina, Arab, dan lain-lain.
20. Senjata pidato atau ceramah: doa, pepatah-pepitih, humor/lelucon, semangat berapi-api, syahdu, lagu-lagu, alat peraga.

Jumat, 27 Januari 2012

Resensi buku "Gurunya Manusia" Bab 1, Penulis : Munif Chatib

Majulah Pendidikan Indonesia
Untuk dapat memajukan mutu pendidikan di Indonesia, harus ada upaya-upaya dari pihak pemerintah dan pengelola sekolah untuk selalu meningkatkan keilmuan dan kemampuan para guru dalam mengajar. Karena output pembelajaran di sekolah-sekolah tergantung pada bagaimana proses pembelajaran siswa-siswinya sehari-hari, serta dipengaruhi pula oleh kompetensi yang dimiliki oleh para guru. Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru di Indonesia diharapkan punya empat kompetensi dalam menjalankan profesinya, yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi profesionalisme, dan kompetensi sosial.
Kompetensi pedagogi adalah kemampun mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar; dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil,dewasa, dan berwibawa-yang akan menjadi teladan bagi peserta didik- serta berakhlak mulia. Kompetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing siswa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari msyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif di antara peserta didik, sesama pendidik, teaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Dalam gurunya manusia, tidak ada siswa yang bodoh. Ungkapan-ugkapan yang memojokkan siswa seharusnya tidak perlu dilakukan oleh guru. Upaya untuk memahami cara belajar siswa memang bukan hal yang mudah, dibutuhkan keterampilan dan seni tingkat tinggi. Betapa sulitnya meyakinkan para guru bahwa setiap siswa punya gaya belajar masing-masing, yang juga selalu berubah. Informasi akan masuk ke dalam otak siswa dan tak terlupakan seumur hidup siswa tesebut. Artinya, setiap guru harus mahir mengajar dengan strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Apabila paradigma ini benar-benar dipahami oleh guru, guru tidak akan dengan mudah memberikan label siswa bodoh atau siswa tidak becus.

Mengingat begitu pentingnya peningkatan kualitas mengajar para guru, maka hal yang terpenting dalam program-program peningkatan kualitas tersebut adalah niat dan kemauan guru untuk kreatif dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan pekerjaannya. Ahmad Rizal, seorang pemerhati pendidikan, dalam bukunya yang berjudul Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional (Grasindo, 2009) mengatakan bahwa ternyata, ada guru yang secar mental tidak siap dilatih, bahkan jumlahnya cukup besar. Guru model demikian-menurut Ahmad Rizal-adalah guru yang tidak punya kemampuan apapun. Persis seperti robot, baru bekerja setelah ada perintah dan selalu menuntut hak terlebih dahulu sebelum menunaikan kewajibannya dengan baik. Namun, sedikit sekali guru yang berkonsentrasi untuk belajar dan mengajar dengan baik. Sehari-hari, waktu bekerja guru jenis ini hanya fokus pada menentukan cara agar ilmu yang diajarkan dapat diterima dengan mudah oleh setiap siswa.
Frekuensi waktu belajar para guru di sekolah sangat menentukan baik atau tidaknya kualitas sekolah tersebut. Apabila guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti belajar, dan pertanyaan yang sulit dijawab, yaitu kapan dan di manakah guru harus belajar? Ada beberapa cara agar guru dapat selalu belajar, yaitu:
1. Membentuk Divisi Guardian Angel (GA) sang malaikat penyelamat, yaitu divisi khusus untuk pelatihan dan pengembangan guru di tiap sekolah. Seperti mendesain prioritas pelatihan guru, memberikan konsultsi lesson plan kepada guru.
2. Program bedah buku secara reguler, yaitu setiap ada buku baru tentang pendidikan, para guru di sekolah harus membedah buku tersebut.
3. Program Tamu Kita Minggu Ini, yaitu sebuah program yang diikuti ileh guru bidang studi tertentu atau gabungan beberapa bidang studi untuk membicarakan “tamu” mereka, yaitu seorang siswa yang mungkin menghadapi masalah dalam belajar.
Dilihat dari faktor kemauan untuk maju, guru dikelompokkan menjadi tiga jenis,
1. Guru robot, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk kelas, mengajar lalu pulang. Mereka hanya peduli pada beban materi yang harus dismpaikan kepada siswa. Mereka tak peduli terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi, apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah pada umumnya. Mereka tidak peduli dan mirip robot yang selalu menjalankan perintah sesuai program yang sudah disusun. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan:
* “Wah, itu bukan masalahku, tapi masalah kamu. Jadi, selesaikan sendiri !”
* “Maaf, saya tidak dapat membantu sebab ini bukan tugas saya...”
2. Guru materialistis, yaitu guru yang selalu melakukan perhitungan, mirip degan aktivitas bisnis jual beli. Yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka terima, barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan sesuai hak yang mereka terima.
Ungkapan-ungkapan yang banyak kita dengar dari guru jenis ini, antara lain:
* “Cuma digaji sekian saja, kok mengharapkan saya total dalam mengajar, jangan harap, ya!”
* “Percuma mau kreatif, penghasilan yang diberikan kepada saya hanya Cuma untuk biaya transport...”
* “Kalau mengharapkan saya bekerja baik, ya turuti dong permintaan gaji saya sebesar sekian!”
3. Gurunya manusia, yaitu guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas, akan berintrospeksi apabila ada siswa yang tidak memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar sebab mereka sadar, profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan pengembangan kompetensi.

Selasa, 24 Januari 2012

Nabi Isa as. menurut Al-Quran

Disusun Oleh: Agus Hermawan, S.Ag

1. Kelahiran Isa sebagai anak dari Maryam tanpa ayah (QS. Ali Imran: 45-47)
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),(45)
dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa,dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh."(46) Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (47)

2. Ucapan Isa sewaktu masih bayi (QS. Maryam: 30-32)
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi (30) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; (31) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.(32)

3. Allah swt. tidak mempunyai anak, dan Nabi Isa as. bukan Tuhan (QS. Maryam: 35-37)
Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.(35) Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.(36) Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.(37)
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (QS. Al-Ikhlash: 3)

4. Mukjizat Nabi Isa as. (QS.Al-Maaidah: 110)
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."

5. Nabi Isa as. tidak dibunuh ataupun disalib (QS.An-Nisaa’:157-158)
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.(157) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(158)

22 Dampak Perbuatan Maksiat Menurut Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Disusun oleh : Agus Hermawan, S.Ag

Firman Allah swt. yang artinya:

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang mereka kekal di dalamnya, dan baginya azab yang menghinakan” (Q.S. An Nisaa’ : 14)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
(Q.S. An Nisaa’ : 110 – 111)

Rasulullah saw. Bersabda:

“Seorang mukmin jika berbuat suatu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah hitam. Jika dia bertobat dan istighfar, hatinya akan kembali putih dan bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itupun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat “Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka “ (H.R. Tirmizi)

Adapun dampak dari perbuatan maksiat adalah :

1. Maksiat menghalangi kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
2. Maksiat akan menghalangi rezeki
3. Maksiat membuat kita jauh dari Allah swt.
4. Maksiat membuat kita jauh dari orang-orang baik
5. Maksiat membuat sulit semua urusan kita
6. Maksiat melemahkan hati dan badan
7. Maksiat menghalangi kita untuk taat kepada Allah swt.
8. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan
9. Maksiat menumbuhkan maksiat yang lain
10. Maksiat mematikan bisikan hati nurani
11. Maksiat dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat
12. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat
13. Maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinaan
14. Maksiat merusak akal kita
15. Maksiat dapat mentup hati manusia
16. Pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.
17. Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah saw. dan malaikat
18. Maksiat melenyapkan rasa malu
19. Maksiat yang kita lakukan berarti meremehkan Allah swt.
20. Maksiat memalingkan perhatian Allah dari diri kita
21. Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab
22. Maksiat memalingkan diri kita dari istiqomah

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”
(Q.S. Al Hasyr : 19)


Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang gemar berbuat dosa atau maksiat, dan ter- lindung dari godaan dan ajakan syetan .

ANJURAN BERBUAT KEBAIKAN

Disusun Oleh: Agus Hermawan, S.Ag
I. Firman Allah swt:
“ Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan “kehidupan yang baik”, seperti:
1. Abdullah bin Abbas ra. : rezeki yang baik dan halal di dunia
2. Abdullah bin Abbas ra. : sa’adah (kebahagiaan)
3. Ali bin Abi Thalib, Al Hasan Al Basri : qona’ah (kecukupan)
4. Abu Bakar al Waroq : lezatnya ketaatan
5. Abdurrahman bin Nashr As Sa’di : ketenangan jiwa dan hati serta tidak terpengaruh dengan adanya yang mengganggu ketenangan hatinya, sehingga Allah memberikan rezeki yang baik dan halal kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka
6. Abul Fida’ Ibnu Katsir ra. : kehidupan yang baik mencakup seluruh bentuk kelapangan dari segala sisi.
7. Qotadah, Mujahid, Ibn Zaid ra. : kehidupan yang baik di akhirat berupa surga
8. Abu Ghasan dari Syarik : kehidupan yang baik di alam kubur
Adapun tentang janji yang Allah berikan berupa pahala yang lebih baik, berkata Abu Bakar Al jaza’iri hafidzahullah, bahwa “yang mendapatkan janji ini adalah ahli iman dan amal soleh, yaitu keimanan yang benar, mengantarkan kepada amalan soleh, bersih dari syirik dan maksiyat. Merekalah yang akan memetik janji dari Allah berupa kehidupan yang baik, kecukupan, makanan dan minuman yang lezat, serta bersih dari noda (kotoran). Ini di dunia. Adapun di akhirat, mereka akan memperoleh surga dan balasan yang terbaik dari setiap jenis amalan yang telah mereka kerjakan (Aisar At Tafsir).”

II. Hadits Nabi Muhammad saw.
“Mu’adz berkata: Rasulullah saw. mewasiati/menasihati saya, seraya beliau bersada: Wahai Mu’adz, saya wasiati/nasihati kamu agar bertakwa kepada Allah, benar/jujur pembicaraan, setia pada janji, tunaikan amanat, tinggalkan khianat, jaga hubungan baik dengan tetangga, santun terhadap anak yatim, lemah lembut pembicaraan, sebarkan salam, baik amal, sedikit angan-angan, konsekuen dengan keimanan, fahami Alquran, cinta akhirat, merasa susah memikirkan hisab amal, rendahkan sayap (sopan santun). Dan saya melarang kamu mencaci maki orang yang bijaksana, atau mendustakan orang yang benar/jujur, atau tunduk patuh pada orang yang berdosa, atau melanggar perintah dan larangan pemimpin yang adil, atau merusak bumi. Dan saya nasihati kamu agar bertakwa kepada Allah pada setiap batu, kayu, dan tanah (jangan merusak ketiga unsur tersebut) dan kamu harus ikuti setiap dosa dengan tobat. Dosa yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tobatnya dengan sembunyi-sembunyi pula, dosa yang dikerjakan dengan terang-terangan, tobatnya dengan terang-terangan pula. (Diriwayatkan oleh Al Kharaithi, Al Baihaqi dan Abu Nu’aim)

III. Daftar Pustaka
Ahlussunahpalopo.blogspot.com
Muhammad, Abu Bakar, Hadits Tarbiyah, Surabaya: Al khlas, 1995