Selasa, 31 Januari 2012

MUKJIZAT ILMIAH ALQURAN DALAM ILMU GEOLOGI

Dikutip dari karya Harun Nasution
Ilmu lapisan bumi

“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu adalah sesuatu yang padu kamudian Kami pisahkan antara keduanya. Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapa mereka tiada beriman?” (QS. Al Anbiya : 30)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya?’ (Yang bersifat demikian) itulah Tuhan semesta alam. Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. Penjelasan itu sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit sedangkan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ’Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ’Kami datang dengan suka hati….’ ” (QS. Fushshilat : 9-11)
Para ilmuwan telah menemukan bahwa bumi, matahari dan planet-planet, serta benda-benda langit lainnya semula adalah berupa nebula (sekumpulan bintang di langi yang tampak seperti massa debu dan gas berpijar dan bercahaya di luar angkasa), kemudian bumi terpisah dari kumpulan ini.
Terjadinya bumi
”Bumi sesudah itu dihamparkanNya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh.” (QS. An Nazi’at : 30-32)
Bentuk bumi
”Bumi sesudah itu dihamparkanNya.” (QS. An Nazi’at : 30)
”Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.” (QS. Ar Rahman : 17)
”Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam.” (QS. Az Zumar : 5)
”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin :40)
Gunung yang bergerak
”Kamu lihat gunung-gunung itu, lalu kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan….” (QS. An Naml : 88)
14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13).
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Pengerutan bagian tepi-tepi bumi
”Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami mendatangi daerah-daerah (orang kafir) lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya. Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya) tidak ada yang dapat menolak kehendakNya. Dialah Yang Mahacepat hisabNya.” (QS. Ar Ra’d : 41)
”Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Apakah mereka tidak melihat bahwa kami mendatangi negeri orang (kafir) lalu kami kurangi luasnya dari segala penjurunya, maka apakah mereka yang menang ?” (QS. Al Anbiya : 44)
Keseimbangan bumi
Ilmu modern menerangkan bahwa gunung terjadi dari dua lempeng raksasa yang saling bertumbukan. Bagian dari lempengan itu ada yang melipat ke bawah dan ke atas. Ahli geologi menyatakan, fungsi gunung adalah sebagai isotasi, yakni kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi
”Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung itu sebagai pasak ?” (QS. An Naba : 6-7)
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS. Al Anbiya : 31)
”Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu.” (QS. An Nahl : 15)
Perbedaan tanah di bumi
”Di bumi itu terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’d : 4)
Perembesan air
“Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi. Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al Mu’minun : 18)
Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus. Lalu, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan ?” (QS. As Sajdah : 27)
”Katakanlah, ’Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu ?” (QS. Al Mulk : 30)
”Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al Kahfi : 41)
Pancaran air dari bebatuan
”Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 74)

Senin, 30 Januari 2012

PSIKOLOGI DAKWAH

Disampaikan Oleh : KH.Nandi Naqsabandi Aziz, MA
Pada acara kuliah Mubalighin, LTM-NU, Ahad, 29 Januari 2012
Ditulis ulang oleh Agus Hermawan S.Ag

Sebelum berceramah, kita hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Lihat dulu kondisi jama’ahnya
2. Bicara sesuai dengan kadar pengetahuan jama’ahnya
3. Pandangan (pola pikir) harus luas, jangan picik
4. Menyampaikan ceramah dengan cara/retorika yang baik
5. Melengkapi diri dengan berbagai ilmu
6. Mendiskusikan terlebih dahulu materi yang akan disampaikan
7. Banyak menghafal ayat dan hadits
8. Berceramah berdasar dorongan hati dan otak
9. Materi yang diucapkan harus sesuatu yang (anda anggap) mendesak dan kuat
10. Harus ikhlas, tidak mengharapkan “salam tempel”
11. Jangan berceramah kalau : menahan ke wc, sakit, lapar, haus, lesu, letih, pikiran kacau
12. Pakaian harus rapi, wajah senyum, sebelum bicara sudah menarik
13. Atraktif, harus serba menarik, seperti: sikap, air muka menarik, pakaian, gerak-gerik.
14. Rasa cinta yang memancar kepada pendengar (audience)
15. Berbicara dari hati, maka akan sampai ke hati pula
16. Ketika membaca ayat boleh dilagukan
17. Pendahuluan bagaikan iklan (harus menarik), seperti: padat, gaya bahasa menarik, surprise, diluar dugaan, mengundang orang lain ingin tahu,
18. Perbaiki bahasa dengan membaca buku-buku sastrawan, karangan orang-orang besar, kamus bahasa Indonesia, jangan memakai istilah yang telah usang
19. Pengucapan bahasa harus fasih, baik dalam bahasa Inggris, Cina, Arab, dan lain-lain.
20. Senjata pidato atau ceramah: doa, pepatah-pepitih, humor/lelucon, semangat berapi-api, syahdu, lagu-lagu, alat peraga.

Jumat, 27 Januari 2012

Resensi buku "Gurunya Manusia" Bab 1, Penulis : Munif Chatib

Majulah Pendidikan Indonesia
Untuk dapat memajukan mutu pendidikan di Indonesia, harus ada upaya-upaya dari pihak pemerintah dan pengelola sekolah untuk selalu meningkatkan keilmuan dan kemampuan para guru dalam mengajar. Karena output pembelajaran di sekolah-sekolah tergantung pada bagaimana proses pembelajaran siswa-siswinya sehari-hari, serta dipengaruhi pula oleh kompetensi yang dimiliki oleh para guru. Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru di Indonesia diharapkan punya empat kompetensi dalam menjalankan profesinya, yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi profesionalisme, dan kompetensi sosial.
Kompetensi pedagogi adalah kemampun mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar; dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil,dewasa, dan berwibawa-yang akan menjadi teladan bagi peserta didik- serta berakhlak mulia. Kompetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga guru dapat membimbing siswa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari msyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif di antara peserta didik, sesama pendidik, teaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Dalam gurunya manusia, tidak ada siswa yang bodoh. Ungkapan-ugkapan yang memojokkan siswa seharusnya tidak perlu dilakukan oleh guru. Upaya untuk memahami cara belajar siswa memang bukan hal yang mudah, dibutuhkan keterampilan dan seni tingkat tinggi. Betapa sulitnya meyakinkan para guru bahwa setiap siswa punya gaya belajar masing-masing, yang juga selalu berubah. Informasi akan masuk ke dalam otak siswa dan tak terlupakan seumur hidup siswa tesebut. Artinya, setiap guru harus mahir mengajar dengan strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Apabila paradigma ini benar-benar dipahami oleh guru, guru tidak akan dengan mudah memberikan label siswa bodoh atau siswa tidak becus.

Mengingat begitu pentingnya peningkatan kualitas mengajar para guru, maka hal yang terpenting dalam program-program peningkatan kualitas tersebut adalah niat dan kemauan guru untuk kreatif dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan pekerjaannya. Ahmad Rizal, seorang pemerhati pendidikan, dalam bukunya yang berjudul Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional (Grasindo, 2009) mengatakan bahwa ternyata, ada guru yang secar mental tidak siap dilatih, bahkan jumlahnya cukup besar. Guru model demikian-menurut Ahmad Rizal-adalah guru yang tidak punya kemampuan apapun. Persis seperti robot, baru bekerja setelah ada perintah dan selalu menuntut hak terlebih dahulu sebelum menunaikan kewajibannya dengan baik. Namun, sedikit sekali guru yang berkonsentrasi untuk belajar dan mengajar dengan baik. Sehari-hari, waktu bekerja guru jenis ini hanya fokus pada menentukan cara agar ilmu yang diajarkan dapat diterima dengan mudah oleh setiap siswa.
Frekuensi waktu belajar para guru di sekolah sangat menentukan baik atau tidaknya kualitas sekolah tersebut. Apabila guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti belajar, dan pertanyaan yang sulit dijawab, yaitu kapan dan di manakah guru harus belajar? Ada beberapa cara agar guru dapat selalu belajar, yaitu:
1. Membentuk Divisi Guardian Angel (GA) sang malaikat penyelamat, yaitu divisi khusus untuk pelatihan dan pengembangan guru di tiap sekolah. Seperti mendesain prioritas pelatihan guru, memberikan konsultsi lesson plan kepada guru.
2. Program bedah buku secara reguler, yaitu setiap ada buku baru tentang pendidikan, para guru di sekolah harus membedah buku tersebut.
3. Program Tamu Kita Minggu Ini, yaitu sebuah program yang diikuti ileh guru bidang studi tertentu atau gabungan beberapa bidang studi untuk membicarakan “tamu” mereka, yaitu seorang siswa yang mungkin menghadapi masalah dalam belajar.
Dilihat dari faktor kemauan untuk maju, guru dikelompokkan menjadi tiga jenis,
1. Guru robot, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk kelas, mengajar lalu pulang. Mereka hanya peduli pada beban materi yang harus dismpaikan kepada siswa. Mereka tak peduli terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi, apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah pada umumnya. Mereka tidak peduli dan mirip robot yang selalu menjalankan perintah sesuai program yang sudah disusun. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan:
* “Wah, itu bukan masalahku, tapi masalah kamu. Jadi, selesaikan sendiri !”
* “Maaf, saya tidak dapat membantu sebab ini bukan tugas saya...”
2. Guru materialistis, yaitu guru yang selalu melakukan perhitungan, mirip degan aktivitas bisnis jual beli. Yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka terima, barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan sesuai hak yang mereka terima.
Ungkapan-ungkapan yang banyak kita dengar dari guru jenis ini, antara lain:
* “Cuma digaji sekian saja, kok mengharapkan saya total dalam mengajar, jangan harap, ya!”
* “Percuma mau kreatif, penghasilan yang diberikan kepada saya hanya Cuma untuk biaya transport...”
* “Kalau mengharapkan saya bekerja baik, ya turuti dong permintaan gaji saya sebesar sekian!”
3. Gurunya manusia, yaitu guru yang punya keikhlasan dalam mengajar dan belajar. Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas, akan berintrospeksi apabila ada siswa yang tidak memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar sebab mereka sadar, profesi guru tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang keinginannya kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan pengembangan kompetensi.

Selasa, 24 Januari 2012

Nabi Isa as. menurut Al-Quran

Disusun Oleh: Agus Hermawan, S.Ag

1. Kelahiran Isa sebagai anak dari Maryam tanpa ayah (QS. Ali Imran: 45-47)
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),(45)
dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa,dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh."(46) Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (47)

2. Ucapan Isa sewaktu masih bayi (QS. Maryam: 30-32)
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi (30) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; (31) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.(32)

3. Allah swt. tidak mempunyai anak, dan Nabi Isa as. bukan Tuhan (QS. Maryam: 35-37)
Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.(35) Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.(36) Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.(37)
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (QS. Al-Ikhlash: 3)

4. Mukjizat Nabi Isa as. (QS.Al-Maaidah: 110)
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."

5. Nabi Isa as. tidak dibunuh ataupun disalib (QS.An-Nisaa’:157-158)
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.(157) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(158)

22 Dampak Perbuatan Maksiat Menurut Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Disusun oleh : Agus Hermawan, S.Ag

Firman Allah swt. yang artinya:

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang mereka kekal di dalamnya, dan baginya azab yang menghinakan” (Q.S. An Nisaa’ : 14)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
(Q.S. An Nisaa’ : 110 – 111)

Rasulullah saw. Bersabda:

“Seorang mukmin jika berbuat suatu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah hitam. Jika dia bertobat dan istighfar, hatinya akan kembali putih dan bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itupun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat “Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka “ (H.R. Tirmizi)

Adapun dampak dari perbuatan maksiat adalah :

1. Maksiat menghalangi kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
2. Maksiat akan menghalangi rezeki
3. Maksiat membuat kita jauh dari Allah swt.
4. Maksiat membuat kita jauh dari orang-orang baik
5. Maksiat membuat sulit semua urusan kita
6. Maksiat melemahkan hati dan badan
7. Maksiat menghalangi kita untuk taat kepada Allah swt.
8. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan
9. Maksiat menumbuhkan maksiat yang lain
10. Maksiat mematikan bisikan hati nurani
11. Maksiat dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat
12. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat
13. Maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinaan
14. Maksiat merusak akal kita
15. Maksiat dapat mentup hati manusia
16. Pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.
17. Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah saw. dan malaikat
18. Maksiat melenyapkan rasa malu
19. Maksiat yang kita lakukan berarti meremehkan Allah swt.
20. Maksiat memalingkan perhatian Allah dari diri kita
21. Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab
22. Maksiat memalingkan diri kita dari istiqomah

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”
(Q.S. Al Hasyr : 19)


Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang gemar berbuat dosa atau maksiat, dan ter- lindung dari godaan dan ajakan syetan .

ANJURAN BERBUAT KEBAIKAN

Disusun Oleh: Agus Hermawan, S.Ag
I. Firman Allah swt:
“ Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan “kehidupan yang baik”, seperti:
1. Abdullah bin Abbas ra. : rezeki yang baik dan halal di dunia
2. Abdullah bin Abbas ra. : sa’adah (kebahagiaan)
3. Ali bin Abi Thalib, Al Hasan Al Basri : qona’ah (kecukupan)
4. Abu Bakar al Waroq : lezatnya ketaatan
5. Abdurrahman bin Nashr As Sa’di : ketenangan jiwa dan hati serta tidak terpengaruh dengan adanya yang mengganggu ketenangan hatinya, sehingga Allah memberikan rezeki yang baik dan halal kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka
6. Abul Fida’ Ibnu Katsir ra. : kehidupan yang baik mencakup seluruh bentuk kelapangan dari segala sisi.
7. Qotadah, Mujahid, Ibn Zaid ra. : kehidupan yang baik di akhirat berupa surga
8. Abu Ghasan dari Syarik : kehidupan yang baik di alam kubur
Adapun tentang janji yang Allah berikan berupa pahala yang lebih baik, berkata Abu Bakar Al jaza’iri hafidzahullah, bahwa “yang mendapatkan janji ini adalah ahli iman dan amal soleh, yaitu keimanan yang benar, mengantarkan kepada amalan soleh, bersih dari syirik dan maksiyat. Merekalah yang akan memetik janji dari Allah berupa kehidupan yang baik, kecukupan, makanan dan minuman yang lezat, serta bersih dari noda (kotoran). Ini di dunia. Adapun di akhirat, mereka akan memperoleh surga dan balasan yang terbaik dari setiap jenis amalan yang telah mereka kerjakan (Aisar At Tafsir).”

II. Hadits Nabi Muhammad saw.
“Mu’adz berkata: Rasulullah saw. mewasiati/menasihati saya, seraya beliau bersada: Wahai Mu’adz, saya wasiati/nasihati kamu agar bertakwa kepada Allah, benar/jujur pembicaraan, setia pada janji, tunaikan amanat, tinggalkan khianat, jaga hubungan baik dengan tetangga, santun terhadap anak yatim, lemah lembut pembicaraan, sebarkan salam, baik amal, sedikit angan-angan, konsekuen dengan keimanan, fahami Alquran, cinta akhirat, merasa susah memikirkan hisab amal, rendahkan sayap (sopan santun). Dan saya melarang kamu mencaci maki orang yang bijaksana, atau mendustakan orang yang benar/jujur, atau tunduk patuh pada orang yang berdosa, atau melanggar perintah dan larangan pemimpin yang adil, atau merusak bumi. Dan saya nasihati kamu agar bertakwa kepada Allah pada setiap batu, kayu, dan tanah (jangan merusak ketiga unsur tersebut) dan kamu harus ikuti setiap dosa dengan tobat. Dosa yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tobatnya dengan sembunyi-sembunyi pula, dosa yang dikerjakan dengan terang-terangan, tobatnya dengan terang-terangan pula. (Diriwayatkan oleh Al Kharaithi, Al Baihaqi dan Abu Nu’aim)

III. Daftar Pustaka
Ahlussunahpalopo.blogspot.com
Muhammad, Abu Bakar, Hadits Tarbiyah, Surabaya: Al khlas, 1995